NEW YORK, Detiktoday.com – Harga minyak dunia ditutup anjlok sekitar 2% pada perdagangan Kamis (9/7/2026), tertekan kekhawatiran bahwa kenaikan inflasi dan melambatnya ekonomi global dapat menggerus permintaan energi, meskipun risiko gangguan pasokan masih membayangi akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman terdekat anjlok US$ 1,72 (2,2%) menjadi US$ 76,30 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 1,44 (2%) menjadi US$ 72,08 per barel.
Padahal sehari sebelumnya, Brent ditutup pada level tertinggi sejak 19 Juni, sedangkan WTI mencapai posisi tertinggi sejak 22 Juni.
Dari sisi geopolitik, militer Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk setelah Washington menggempur wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Kondisi tersebut semakin menekan perjanjian gencatan senjata yang baru berlangsung sekitar tiga pekan.
Konflik juga menghambat pembukaan penuh Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Global Energy Strategist Macquarie Group Vikas Dwivedi memperkirakan ketegangan terbaru di Timur Tengah tidak akan berlangsung lama karena kedua negara menghadapi keterbatasan ekonomi dan politik.
“Kami memperkirakan ketegangan baru antara AS dan Iran akan relatif singkat karena kedua negara dibatasi oleh realitas ekonomi dan politik,” ujar Dwivedi dalam risetnya.
Qatar, yang selama ini kerap menjadi mediator antara Washington dan Teheran, mengecam serangan terhadap kapal-kapal komersial dan mendesak kedua pihak kembali menempuh jalur diplomasi. Menteri luar negeri Turki dan Oman juga menyerukan agar tidak terjadi eskalasi militer lebih lanjut.
Director of Energy Futures Mizuho Bob Yawger mengatakan, Iran tampaknya mulai mencari jalan untuk meredakan konflik dan membuka peluang kembali ke meja perundingan. “Setelah dua hari serangan, Iran tampaknya berupaya mengurangi permusuhan dan kemungkinan kembali bernegosiasi,” katanya.
Menurut Goldman Sachs, arus pengiriman minyak dari Teluk Persia sempat pulih hingga lebih dari 80% dari kondisi normal dalam 10 hari pertama setelah pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, angka tersebut kembali turun ke kisaran 70% setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker.
Inflasi Bayangi Permintaan