JAKARTA, Detiktoday.com – Desainer Adrie Basuki meraup cuan dari kain perca yang merupakan limbah fahsion atau sisa-sisa kain. Ia mengolah kain perca menjadi berbagai produk, termasuk kain marmer yang bernilai tinggi dan memasarkannya ke pasar dalam negeri, termasuk korporat yang mendukung fashion berkelanjutan.
“Kain marmer itu adalah kain yang dibuat dari sisa-sisa kain atau kain perca. Saya terinspirasi dari pengolahan plastik. Kalau plastik bisa dicacah jadi plastik lagi, masa kain gak bisa? Kata desainer Adrie Basuki dalam talkshow Cuan Iki yang digelar di Investor Day 2026 di BEI, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Adrie Basuki memaparkan, bisnis fashionnya memiliki tiga DNA yang saling melengkapi. “Brand DNA Adrie Basuki itu ada tiga, yaitu ada wastra, kemudian zero waste, dan yang ketiga itu ada social impact,” papar Adrie.
Di wastra, Adrie memproduksi busana dari kain batik dan tenun. Sedangkan zero waste, Adrie memproduksi kain dari limbah kain atau kerap disebut kain perca. Pada 2019, Adrie melakukan riset untuk menciptakan kain baru yang dibuat dari limbah kain yang dicacah. Hasilnya terciptalah kain yang diberinya nama Kain Marmer.
“Prosesnya, kain perca dicacah, lalu ditata dan dilem di atas kain tule. Untuk menyambungnya, lalu di-quilting seperti proses nenek-nenek kita zaman dulu,” ujar Adrie. Hasilnya, jadilah kain indah seperti marmer. “Saya sedang mematenkan kain ini,” ujar Adrie.
Dari sisa-sisa kain produksi busananya, mulai sisa kain tenun, sisa kain batik, ia olah menjadi kain marmer. Untuk membuat selembar kain berukuran 1,5 m x 1 m, Adrie menghabiskan sebanyak 750 gram kain perca yang sudah dicacah. Kain-kain ini ia hargai Rp525 ribu.
Pasar Korporat hingga Luar Negeri
Ke mana Adrie memasarkan produk kain marmer dan busana wastranya? Saat ini produk fashion Adrie bisa ditemui di Central, Grand Indonesia, Jakarta, lalu di Pendopo Alam Sutra Alam Sutra, Banten, dan di Bandung. “Sisanya online,” ujar dia.
Adrie sadar, kain yang dibuat dari bahan daur ulang saat ini memang belum bisa dijual dengan harga murah. Ini karena belum bisa diproduksi dalam skala besar. “Pasarnya memang lebih mahal. Tapi yang kita lihat sebagai peluang adalah bahwa kain ini akhirnya kami mencari pasar dari B2B. Jadi karena banyak sekali perusahaan yang mengerjakan ESG (Environmental, Social, and Governance), mereka mencari segala bentuk macam pengolahan wastra. Jadi, klien kita memang 50% itu korporat,” ungkap Adrie.
Salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan Adrie adalah retail Uniqlo. Perusahaan retail asal Jepang ini menyerahkan limbah kainnya untuk diolah Adrie menjadi berbagai benda. “Uniqlo kan punya program donasi, nah program ini bekerja sama dengan saya untuk mengolah limbah kainnya,” kata Adrie.
Pada 2022, kain ini ikut diperagakan di Kedutaan Besar RI di Moscow, Rusia. “Jadi mereka ngundang beberapa tamu undangan untuk melihat peragaan kami. Kemudian kita sempat bawa ini ke Paris dan London di 2023 dan London,” ungkap Adrie.
Untuk kuartal satu (Q1) dan dua (Q2) tahun ini, Adrie akan menggelar peragaan kain di pekan mode JF3 di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, yang diselenggarakan pada 22-29 Juli 2026. “Itu selalu jadi cara bagaimana kita memperkenalkan produk kita ke industri fashion. Tapi untuk target berikutnya adalah di sisa 6 bulan ini, adalah kita ingin punya lebih banyak klient-klient corporate yang memang peduli dengan sustainability dan circular economy,” kata Adrie.
Dengan bangga, Adrie mengungkap, salah satu klien korporat yang memercayakannya adalah perusahaan otomotif yang akan menggelar pameran di GIIAS 2026 Juli mendatang. “Aku belum bisa bilang brand-nya, tapi di GIIAS 2026 pada akhir Juli, kain marmer aku akan mendekor salah satu otomotif besar di Indonesia,” bocoran Adrie.
Berdayakan Ibu-ibu Korban Pinjol
Sebagai desainer yang peduli lingkungan, Adrie tak bekerja sendiri. Ia juga memberdayakan ibu-ibu di Bogor mulai tahun 2020. Ini menjadi lini bisnis social impact-nya. “Awalnya saya bekerja sama dengan Ibu Walikota Bogor, saya diminta memberdayakan ibu-ibu korban pinjol untuk membuat busana dari kain sisa. Dari 15 orang kini menjadi 30 orang hingga akhirnya kampung itu disebut Kampung Perca Sindang Sari Bogor,” cerita Adrie.
Kini, Kampung Perca tersebut menjadi sentra produk berbagai barang kerajinan dari kain perca, mulai apron, tempat tisu, hingga koleksi fashion. Berkarung-karung limbah kain perca dari konveksi di Bogor kini diolah oleh ibu-ibu di Kampung Perca Bogor. Program ini lagi-lagi dilirik oleh korporat yang memiliki program ESG sehingga membuka pasar bagi produk kain perca.
“Ternyata di tahun 2021, akhirnya itu bisa menarik mengundang banyak korporat-korporat untuk mensuport mereka. Jadi di 2021 ketika di launching itu, Ibu-ibu sudah punya workshop sendiri. Terus mereka dapat sumbangan mesin jahit dari berbagai institusi. Jadi sekarang kalau ke Bogor, di Kampung Perca Sindang Sari itu sudah ada galeri sendiri,” kata Adrie.
Kiat Bertahan
Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu ini, termasuk pelemahan rupiah, Adrie mengungkap bagaimana produk kain limbahnya bisa bertahan di pasar? “ In this economy ini, yang membuat kita bertahan di in this economy karena kita lebih banyak ketemu klien-klien korporasi, yang bayarannya sudah pasti,” ungkap Adrie.
Yang pasti, tegas Adrie, strategi untuk tetap bertahan adalah tetap terus bergerak. “Yang pasti ga boleh berhenti, ga boleh diam. Gerak terus ya. Jadi mau dari produk innovation, mau dari sisi marketing, sosial media, semua jalan. Dan mungkin pembelajaran untuk kita di Adrie Basuki itu adalah ternyata dengan kita mempelajari atau menjaga cashflow kita itu membuat kita jadi sedikit lebih nyaman di kondisi ini,” ungkap dia.
Satu lagi kunci Adrie Basuki, di tengah idealisme menjaga lingkungan dengan produk fashion daur ulang namun tetap cuan, Adrie menerapkan tiga kunci ini: fokus, konsisten, dan mengerti keuangan bisnis.
“Jadi kalau menurut saya buat semuanya, mau ngurusin sampah, mau ngurusin kain, mau ngurusin apa. belajar lah finance. Accounting finance is really important karena at the end of the day kita punya karya sebagus apapun, ketika kas kita mandek, ketika kita salah bikin strategi, itu yang membuat kita akhirnya ga bisa gerak,” papar Adrie.
Selain itu juga harus fokus. “Kalau sudah fokus, sudah pasti akan konsisten,” tutup Adrie.