Harga Emas Anjlok di Tengah Memanasnya Timur TengahHarga Emas Anjlok di Tengah Memanasnya Timur Tengah

Investor Mulai Tinggalkan Emas, Ini PemicunyaInvestor Mulai Tinggalkan Emas, Ini Pemicunya

Share
Share

LONDON, Detiktoday.com – Minat investor global terhadap emas mulai meredup. Hal ini tercermin dari aksi jual besar-besaran di exchange traded fund (ETF) berbasis emas sepanjang Juni 2026, di tengah pelemahan harga logam mulia dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS).

Laporan terbaru dari World Gold Council yang dirilis pada Selasa (8/7/2026) menunjukkan ETF emas global mencatat arus dana keluar (outflow) sebesar US$ 8,9 miliar pada Juni. Penjualan terjadi di seluruh kawasan, dengan Amerika Utara menjadi penyumbang outflow terbesar.

Akibat aksi jual tersebut, total aset kelolaan (assets under management/AUM) ETF emas global turun 13% menjadi US$ 526 miliar pada akhir Juni. Sementara itu, total kepemilikan emas yang didukung ETF menyusut 74 ton menjadi 4.047 ton.

Meski demikian, secara kumulatif sepanjang semester I-2026, ETF emas global masih membukukan arus dana masuk (inflow) sebesar US$ 8 miliar. Hal itu terutama ditopang oleh derasnya aliran dana ke ETF emas di Asia yang mencatat semester pertama terbaik sepanjang sejarah.

ETF Emas (ilustrasi oleh AI)

Investor mulai mengurangi eksposur terhadap emas setelah harga logam mulia terkoreksi tajam pada Juni. Selain itu, sikap agresif (hawkish) Ketua The Fed Kevin Warsh dan meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran inflasi.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkannya. Harapan kenaikan suku bunga mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil riil (real yield), sehingga meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Amerika Utara mencatat arus keluar dana sebesar US$ 5,5 miliar pada Juni. Secara semester pertama, outflow di kawasan tersebut mencapai US$ 7,7 miliar, menjadi yang terburuk sejak 2013.

Asia Jadi Penyelamat

Share