Isu Panas Saham BankIsu Panas Saham Bank

Isu Panas Saham BankIsu Panas Saham Bank

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Harga minyak masih bertengger di atas level US$ 100 per barel, seiring kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan pengakhiran perang. Situasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi sektor perbankan, termasuk saham-sahamnya.

“Bagi sektor perbankan, harga minyak yang tinggi berpotensi menekan perekonomian, sehingga dapat mengurangi permintaan kredit dan pemburukan kualitas aset, yang pada gilirannya membutuhkan kenaikan beban pencadangan (provisioning),” tulis Stockbit Sekuritas dalam catatannya, yang dikutip pada Minggu (3/5/2026).

Berdasarkan estimasi konsensus analis per 28 April 2026, median pertumbuhan laba bersih Big 4 Banks tahun ini masih diproyeksikan sekitar 5,4% yoy. Big 4 Banks tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

“Kami menilai bahwa estimasi konsensus tersebut memiliki potensi downside risk yang belum terefleksikan dalam skenario harga minyak yang bertahan di level tinggi untuk periode yang lebih panjang (higher for longer),” sebut Stockbit.

Sebagai informasi, investor institusi biasanya menggunakan estimasi laba bersih masa depan dari analis untuk mengukur sejauh mana optimisme/pesimisme pasar terhadap prospek suatu perusahaan.

Estimasi itu juga untuk menghitung dan membandingkan valuasi suatu perusahaan berdasarkan proyeksi laba bersih secara historis maupun terhadap kompetitor.

Secara valuasi, saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI umumnya berada di level yang atraktif secara historis. Karena itu, bagi investor jangka panjang, risiko yang ada masih manageable.

Sedangkan bagi investor taktikal, jika skenario higher for longer terealisasi, potensi pemangkasan estimasi konsensus masih terbuka dan dapat menjadi katalis negatif jangka pendek bagi pergerakan harga saham.

Saham BBCA 

Share