Jaring Desainer Berbakat, PDI Pejuangan Kaltim Gelar Penjurian Fatmawati Trophy 2026

Jaring Desainer Berbakat, PDI Pejuangan Kaltim Gelar Penjurian Fatmawati Trophy 2026

Share
Share

Samarinda, Detiktoday.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Kalimantan Timur menggelar penjurian kompetisi desain kebaya dan kerudung “Fatmawati Trophy 2026”, Rabu (17/6). 

Ajang berskala nasional ini diselenggarakan untuk memperingati 103 tahun kelahiran Ibu Bangsa, Fatmawati Soekarno, sekaligus menjadi panggung bagi desainer lokal untuk unjuk gigi.

Proses penjurian berlangsung secara tertutup guna menjamin penilaian yang objektif, profesional, dan independen. Dewan juri yang terlibat terdiri dari perancang busana (fashion designer), pemerhati budaya, serta pengurus DPD PDI Perjuangan Kaltim. Mereka bertugas menyaring karya terbaik yang akan mewakili Benua Etam ke tingkat nasional.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kaltim, Ananda Emira Moeis, menyampaikan apresiasi tinggi atas kreativitas para peserta. Menurutnya, kompetisi ini dirancang sebagai wadah nyata bagi perancang busana daerah untuk mengangkat potensi wastra (kain tradisional) khas Kaltim.

“Kami ingin memberikan wadah bagi para desainer untuk menunjukkan potensinya dalam membuat karya wastra yang bisa mengharumkan nama daerah,” ujar Ananda, Rabu (17/6/2026).

Ananda menambahkan, corak batik dan tenun Kaltim memiliki keragaman yang luar biasa dan sangat kompetitif di tingkat nasional.

“Ada yang terinspirasi dari kawasan pesisir, pedalaman, hingga corak keraton. Setiap daerah punya ciri khas berbeda. Lewat ajang ini, kami pun jadi belajar banyak hal baru,” imbuhnya.

Sementara itu, perancang busana yang bertindak sebagai juri, Anas Maghfur, menjelaskan bahwa penilaian berfokus pada empat aspek utama:

1. Inovasi

2. Kreativitas

3. Orisinalitas

4. Kualitas desain

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

Anas menekankan, tantangan terbesar bagi para peserta adalah merancang kebaya dan kerudung yang terinspirasi dari sosok Fatmawati—sang penjahit Bendera Merah Putih—namun tetap relevan dengan zaman. Peserta dituntut menghadirkan kesan modern tanpa menanggalkan identitas lokal.

“Ini kali pertama diselenggarakan dan kami melihat potensi desainer di Kaltim mulai bermunculan. Kebaya tidak boleh selalu terkesan kuno. Melalui wastra khas Kaltim seperti tenun dan batik, busana ini bisa tampil modis sekaligus tetap menjaga kearifan lokal,” jelas Anas.

Dari total delapan finalis yang bertanding, nantinya akan dipilih tiga desainer terbaik untuk melaju ke kompetisi tingkat nasional di Jakarta.

Share