Jakarta, Detiktoday.com – DPP PDI Perjuangan menggelar Pembekalan dan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD tingkat provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia masa bakti 2024–2029 di Jakarta, Sabtu (30/5).
Diikuti oleh lebih dari 600 legislator, kegiatan ini difokuskan untuk memperkuat orientasi kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil melalui penguatan ideologi Marhaenisme.
Semangat ideologis tersebut langsung digaungkan di awal acara melalui pemutaran lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme”.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Lagu yang memuat pesan persatuan dan ajakan bergerak bagi kaum Marhaen ini diputar sebagai bagian dari protokol wajib kepartaian sekaligus menyambut Bulan Bung Karno yang diperingati setiap Juni.
Ketua DPP PDI Perjuamgan, Djarot Saiful Hidayat, menegaskan bahwa pemutaran lagu tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan instrumen penting untuk mengingatkan para wakil rakyat yang baru dilantik mengenai akar perjuangan partai.
“Lagu ini adalah pengingat bagi kita semua, terutama para wakil rakyat yang baru dilantik, bahwa esensi perjuangan PDI Perjuangan adalah memihak dan berjuang demi kepentingan rakyat kecil atau kaum Marhaen,” ujar Djarot saat membuka kegiatan Bimtek.
Djarot juga menginstruksikan agar seluruh legislator PDI Perjuangan memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat komitmen politiknya.
“Di Bulan Bung Karno ini, kita perkuat kembali komitmen kita untuk tegak lurus pada komando partai dan membumikan ajaran Bung Karno di setiap kebijakan yang kita ambil,” tambahnya.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Fokus Bimtek ini sejalan dengan instruksi Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang kerap menekankan pentingnya kader untuk turun langsung ke masyarakat. Melalui pembekalan ini, para anggota dewan diharapkan mampu menangkap persoalan riil di daerah masing-masing dan menghadirkannya dalam bentuk solusi nyata, baik lewat fungsi legislasi, anggaran, maupun pengawasan.
Selain materi pembekalan taktis, para peserta juga disegarkan kembali dengan sejarah lahirnya marhaenisme. Istilah yang dicetuskan Bung Karno pada era 1920-an di Priangan, Jawa Barat, setelah bertemu petani bernama Marhaen tersebut, kembali dijadikan simbol penggerak agar para legislator tetap hidup sederhana dan militan dalam membela rakyat.
Melalui Bimtek intensif ini, ratusan wakil rakyat dari berbagai daerah di Indonesia dipersiapkan untuk menjadi ujung tombak partai yang tidak hanya andal secara teknis parlemen, tetapi juga kokoh secara ideologis demi mewujudkan kerja gotong royong di daerahnya masing-masing.