JAKARTA, Detiktoday.com – Meskipun harga emas berhasil rebound hingga menembus level US$ 4.100 per troy ounce, pakar memperkirakan kenaikan logam mulia yang tinggi akan tetap sulit dicapai karena sentimen tentang geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah terus meningkatkan tekanan inflasi dan memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve.
Harga emas spot pada hari Kamis (9/7/2026) ditutup melejit 1,14% menjadi US$ 4.123,82 per troy ounce, setelah pada Rabu (8/7/2026) sempat menyentuh level terendah sejak 1 Juli 2026.
Dikutip dari Kitco News, Jumat (10/7/2026) analis komoditas di Metals Focus, menjelaskan bahwa konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran mendukung harga energi yang lebih tinggi, memicu kekhawatiran inflasi, dan memaksa Federal Reserve untuk mempertahankan kenaikan suku bunga.
Dinamika tersebut dinilai akan membuat harga emas diperdagangkan dalam kisaran yang fluktuatif hingga akhir musim panas.
Selain itu, Metals Focus juga memperkirakan tren investasi di sektor Kecerdasan Buatan (AI) juga berkontribusi pada tekanan inflasi yang terus-menerus, yang mempersulit prospek suku bunga.
“Secara keseluruhan, kami memperkirakan emas akan memasuki periode konsolidasi selama musim panas, secara umum dalam kisaran yang telah berlaku dalam beberapa bulan terakhir. Menurut pandangan kami, akan sulit bagi harga emas untuk menembus kisaran tinggi secara signifikan sebelum pasar mulai mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan lebih lanjut, mungkin selama akhir kuartal ketiga,” kata para analis di Metals Focus dalam catatan mereka.
Setelah harga emas mengalami koreksi pada bulan Juni, umpan balik menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan sementara di China dan India. Meskipun demikian, kenaikan ini berasal dari basis yang rendah dan tetap moderat, terutama mengingat kedua negara tersebut baru akan memasuki periode permintaan musiman yang kuat pada bulan Agustus atau September mendatang.
“Mulai saat itu, kami memperkirakan reli harga emas akan berlanjut. Ini mencerminkan pandangan kami bahwa The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah untuk sisa tahun 2026. Meskipun inflasi tidak mereda dengan cepat, kami percaya para pembuat kebijakan akan bersedia mentolerir inflasi di atas target untuk menghindari perlambatan yang signifikan, termasuk risiko resesi,” papar para analis.
Meski demikian, Metals Focus melihat faktor struktural yang memicu reli emas selama setahun terakhir belum memudar. Para analis terus memandang emas batangan sebagai diversifikasi portofolio yang penting di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus-menerus, kekhawatiran yang meningkat atas prospek jangka panjang dolar AS, dan valuasi ekuitas yang semakin tinggi.