Menyalakan Api Trisakti Menghidupkan Kompas Perjuangan Bangsa

Menyalakan Api Trisakti Menghidupkan Kompas Perjuangan Bangsa

Share
Share

​Jakarta, Detiktoday.com – Hari lahir Proklamator sekaligus Presiden Pertama RI, Soekarno, yang ke-125 tahun menjadi momentum krusial untuk merefleksikan kembali gagasan besar sang fajar. Di tengah dinamika global, ide, cita-cita, dan pemikiran Bung Karno dinilai tetap menjadi landasan sekaligus kompas moral perjuangan bangsa Indonesia.

​Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa Bung Karno lahir di tengah pasang naik revolusi kemanusiaan. Jejak sejarah perjuangannya, mulai dari pidato 

“Indonesia Menggugat”, “Mencapai Indonesia Merdeka”, hingga “Lahirnya Pancasila”, senantiasa konsisten menyuarakan narasi pembebasan.

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

​“Peringatan hari lahir Bung Karno ke-125 tahun ini sangat penting untuk memahami posisi beliau yang lahir di tengah pasang naik revolusi kemanusiaan demi kemerdekaan Indonesia. Maknanya jelas: berbagai bentuk penindasan dalam politik, ekonomi, dan kebudayaan harus dihapuskan agar keadilan sejati bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terwujud,” ujar Hasto dalam keterangan tertulisnya.

​Hasto juga menyoroti situasi nasional saat ini. Menurutnya, tantangan terbesar bangsa hari ini adalah mendesaknya perwujudan keadilan di bidang hukum dan ekonomi. Krisis ekonomi yang membayangi sektor riil dinilai tidak lepas dari lemahnya tata kelola negara dan penegakan hukum.

​“Melemahnya nilai tukar rupiah, turunnya indeks harga saham, tertekannya sektor riil, hingga mencuatnya berbagai kasus korupsi akibat kebijakan populis adalah buah dari tata kelola negara yang buruk,” kritik Hasto.

​Ia menambahkan, situasi tersebut diperparah oleh absennya supremasi hukum yang akhirnya memicu krisis kepercayaan pasar.

​“Tanpa hukum yang berkeadilan, tidak akan ada kepastian. Apalagi jika hukum justru dijadikan alat kekuasaan. Tanpa supremasi hukum, yang tercipta adalah penjajahan gaya baru,” tegasnya.

​Menilik sejarah, melalui pidato pembelaan (pleidoi) “Indonesia Menggugat”, Bung Karno sejak awal telah menggarisbawahi bahwa musuh sejati bangsa bukanlah etnis atau personal bangsa Belanda, melainkan sebuah sistem: nafsu keserakahan yang menghisap dan menyengsarakan rakyat.

Baca: Ganjar: Saya Tidak Bisa Asal Janji yang Nanti Tak Bisa Dilaksanakan

​Hari ini, kapitalisme dan kolonialisme tersebut terus bermutasi dan menampilkan wajah barunya (Neokolonialis-Imperialisme/Nekolim). Untuk menghadapinya, pemikiran geopolitik Bung Karno yang visioner—seperti yang tercermin dalam 

Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non-Blok (GNB), Conference of the New Emerging Forces (CONEFO), hingga gagasan merombak tata dunia melalui pidato “To Build the World Anew”—harus terus dihidupkan.

​Sebagai perisai sekaligus strategi nasional, Hasto mengingatkan kembali pentingnya memegang teguh konsep Trisakti Bung Karno (Berdaulat di bidang politik, Berdikari di bidang ekonomi, dan Berkepribadian dalam kebudayaan).

​“Trisakti Bung Karno adalah kehendak, tekad, dan jalan tunggal untuk menjadi bangsa yang kuat dalam menghadapi sistem global yang menyengsarakan rakyat. Gagasan Bung Karno terbukti menjadi landasan dan kompas perjuangan bangsa. Itulah api perjuangan yang harus terus kita nyalakan,” pungkas Hasto.

Share