Perseroan menegaskan Tambang Emas Pani masih berada di jalur yang tepat untuk mencapai target produksi 100.000–115.000 ounces emas pada 2026, sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disetujui pemerintah.
Panduan biaya tunai ditetapkan pada kisaran US$ 900–1.100 per ounce, sedangkan panduan AISC berada pada kisaran US$ 1.300–1.450 per ounce, keduanya di luar royalti dan kredit perak.
Produksi perak sebagai produk sampingan diperkirakan mencapai 100.000–200.000 ounces sepanjang 2026.
Lebih lanjut, setelah periode kuartal I-2026, EMAS juga mengumumkan estimasi sumber daya mineral perdana untuk prospek Kolokoa sebesar 42 juta ton dengan kadar 0,33 gram per ton emas, yang mengandung sekitar 445.000 ounces emas.
Tambahan tersebut meningkatkan total inventaris sumber daya mineral Tambang Emas Pani dari 7,0 juta ounces menjadi sekitar 7,4 juta ounces emas, atau naik sekitar 6%.
Selain itu, pada 26 Juni 2026 EMAS resmi mencatatkan saham sekunder di The Stock Exchange of Hong Kong melalui skema Hong Kong Depositary Receipts (HDR) dengan kode saham 6228.
Menurut Boyke, pencatatan di HKEX memperluas akses EMAS terhadap investor internasional dan menjadi tonggak penting bagi perseroan maupun pasar modal Indonesia.
Ke depan, EMAS akan berfokus pada peningkatan produksi Tambang Emas Pani secara bertahap, optimalisasi biaya operasional, serta pengembangan kapasitas pengolahan.
“Dengan penjualan emas perdana yang telah terealisasi, target produksi yang jelas, peningkatan sumber daya mineral, serta akses pendanaan melalui pasar modal domestik dan internasional, EMAS optimistis dapat menciptakan nilai jangka panjang dari salah satu deposit emas primer terbesar di Asia,” tutupnya.