JAKARTA, Detiktoday.com – MSCI terus membayangi pasar saham Indonesia yang tercermin pada IHSG. Teranyar, keputusan MSCI dalam peninjauan Agustus 2026. Simak saran untuk investor dan trader untuk menghadapi bayang-bayang ketidakpastian ini.
Dalam peninjauan (review) indeks Agustus 2026, MSCI sebagai penyedia indeks global yang menjadi acuan banyak investor institusi dan pengelola dana internasional, memutuskan untuk mempertahankan sejumlah pembatasan terhadap saham-saham Indonesia.
Beberapa keputusan MSCI dalam peninjauan Agustus 2026, pertama adalah membekukan seluruh kenaikan foreign inclusion factor (FIF), yaitu faktor yang mencerminkan porsi saham yang dapat dimiliki investor asing dan digunakan MSCI dalam menghitung bobot suatu saham di dalam indeks.
Kedua, membekukan kenaikan number of shares (NOS), yakni jumlah saham yang digunakan sebagai dasar perhitungan kapitalisasi pasar dan bobot saham dalam indeks MSCI.
Ketiga, tidak menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), yaitu kelompok indeks MSCI yang mencakup saham-saham yang dinilai memenuhi persyaratan untuk diinvestasikan oleh investor global.
Keempat, tidak menerapkan kenaikan kelas antar segmen kapitalisasi pasar, termasuk perpindahan dari MSCI Small Cap Index ke MSCI Standard Index.
Kelima, tetap mengeluarkan saham-saham yang teridentifikasi dalam kerangka high shareholding concentration (HSC), yakni saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan yang tinggi pada pihak atau kelompok tertentu.
Keenam, mulai menggunakan data keterbukaan pemegang saham dengan kepemilikan 1% atau lebih untuk menyesuaikan estimasi free float apabila diperlukan. Free float merupakan porsi saham yang dimiliki publik dan dapat diperdagangkan secara aktif di pasar.
Ketujuh, memberikan informasi lebih lanjut mengenai perlakuan terhadap pasar Indonesia sebelum peninjauan indeks pada November 2026.
“Keputusan tersebut menunjukkan bahwa MSCI belum menormalkan perlakuannya terhadap saham-saham Indonesia dalam peninjauan Agustus 2026,” tulis Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata dalam ulasannya, dikutip pada Jumat (10/7/2026).
Indonesia masih berada dalam status ‘dibekukan’ untuk sejumlah aspek penting yang biasanya dapat memengaruhi bobot saham di dalam indeks MSCI.
Lebih lanjut, Liza mengungkapkan bahwa pembekuan kenaikan FIF berarti peningkatan faktor saham beredar yang dapat dimiliki investor asing belum akan diterapkan, meskipun suatu saham Indonesia seharusnya memperoleh faktor yang lebih tinggi.
Akibatnya, potensi kenaikan bobot saham tersebut dalam indeks MSCI tetap dibatasi.
Lalu, pembekuan kenaikan NOS berarti perubahan jumlah saham yang dalam kondisi normal dapat meningkatkan bobot suatu saham di indeks belum akan diperhitungkan.
Dengan demikian, dampak positif penyesuaian jumlah saham terhadap bobot indeks masih tertunda.
Adapun keputusan untuk tidak menambahkan saham Indonesia ke MSCI IMI berarti cakupan saham Indonesia dalam indeks MSCI tidak akan diperluas pada peninjauan Agustus 2026.
“Saham-saham yang sebenarnya berpotensi memenuhi persyaratan untuk masuk ke dalam indeks tetap belum akan ditambahkan,” jelas dia.
Kemudian, saham Indonesia yang berpotensi naik kelas, misalnya dari MSCI Small Cap Index ke MSCI Standard Index, belum akan dipindahkan.
Hal ini penting karena saham yang masuk ke MSCI Standard Index biasanya memperoleh perhatian lebih besar dari investor institusi global dan dana pasif berbasis indeks.
Sementara itu, keputusan untuk terus mengeluarkan saham berkategori HSC menunjukkan bahwa MSCI masih menilai konsentrasi kepemilikan yang tinggi sebagai persoalan dari sisi kelayakan investasi.
Artinya, saham dengan free float yang dinilai tidak mencerminkan kepemilikan publik yang sebenarnya atau terlalu terkonsentrasi tidak akan dipertahankan di dalam indeks.
Sedangkan penggunaan data keterbukaan pemegang saham dengan kepemilikan 1% atau lebih menunjukkan bahwa MSCI tidak hanya akan mengandalkan angka formal free float.
MSCI akan menelaah struktur kepemilikan saham secara lebih mendalam. Apabila data menunjukkan kepemilikan yang terkonsentrasi, estimasi free float suatu saham dapat disesuaikan menjadi lebih rendah.
Informasi Lanjutan sebelum Peninjauan November








