JAKARTA, Detiktoday.com – Prospek harga emas dunia dinilai masih dibayangi tekanan dalam beberapa bulan ke depan. Di tengah ancaman koreksi tersebut, analis komoditas sekaligus Co-Founder DeCarley Trading, Carley Garner, membagikan strategi investasi yang dinilai dapat dimanfaatkan investor ketika volatilitas pasar meningkat.
Meski harga emas masih membukukan kenaikan sekitar 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kinerjanya sejak awal 2026 telah berbalik negatif. Hingga akhir Juni, harga emas terkoreksi sekitar 6,8% secara year-to-date (YTD) setelah sempat mencetak rekor tertinggi di kisaran US$ 5.595 per ons troi pada Januari lalu.
Dikutip dari Kitco News, Garner memperkirakan, harga emas masih berpotensi melemah seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS). Menurut dia, kebijakan Ketua The Fed Kevin Warsh yang berfokus mengurangi likuiditas di pasar berpotensi menjadi tantangan besar bagi reli emas.
Garner menilai, pasar masih meremehkan dampak kebijakan Warsh yang ingin memperkuat dolar AS melalui pengurangan jumlah uang beredar, bukan hanya mengandalkan kebijakan suku bunga. Jika strategi tersebut berhasil, salah satu faktor utama yang selama ini menopang kenaikan harga emas akan menghilang.
“Warsh ingin menarik uang keluar dari sistem dan mengurangi jumlah uang beredar sehingga memperkuat dolar. Saya melihat ia ingin mengendalikan inflasi melalui dolar yang lebih kuat. Itu bukan kabar baik bagi emas, perak, tembaga, maupun sebagian besar komoditas,” ujar Garner.
Menurut dia, selama beberapa tahun terakhir investor membeli emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap pelemahan nilai mata uang. Namun, apabila dolar kembali menguat secara berkelanjutan, daya tarik emas diperkirakan akan berkurang.
Meski tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang, Garner memperkirakan tekanan harga masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
Ia menilai pasar sedang memasuki fase likuidasi aset secara bertahap setelah reli panjang yang dipicu kebijakan stimulus besar-besaran sejak pandemi Covid-19. Dana spekulatif yang sebelumnya mengalir ke saham teknologi, aset kripto, dan logam mulia diperkirakan mulai berpindah ke instrumen yang lebih aman.
“Saya melihat kita sedang memasuki periode likuidasi besar. Rasanya seperti kecelakaan kereta yang terjadi secara perlahan,” katanya.
Prediksi Harga Emas