JAKARTA, Detiktoday.com – Analis terus mengeluarkan proyeksi yang positif pada harga emas, seiring dengan membaiknya prospek perdamaian di Timur Tengah.
Dikutip dari Kitco News, Senin (20/4/2026) analis senior komoditas di Kitco, Jim Wyckoff memproyeksi harga emas berpeluang menguat ke level resistensi US$ 5.000 per troy ons.
“Secara teknis, target harga naik berikutnya bagi para pelaku pasar bullish untuk kontrak berjangka emas Juni adalah di atas resistensi kuat US$ 5.000,” kata Wyckoff.
“Resistensi pertama terlihat pada level tertinggi minggu ini di US$ 4.895,40 dan kemudian di US$ 4.950,” ungkap dia.
Namun, Wyckoff juga tidak mengesampingkan kemungkinan terjadinya koreksi pada harga emas.
“Support pertama harga emas turun ke US$ 4.750 dan kemudian di us$ 4.700. Harga turun jangka pendek berikutnya bagi para pelaku pasar bearish adalah harga berjangka di bawah dukungan teknis yang kuat di US$ 4.500,” paparnya.
Sementara itu, pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi memprediksi harga emas dapat mengawali penguatan di resisten pertama sekitar US$ 4.900 per troy ons.
“Kalau harga emas dunia naik, resistenya pertama itu di US$ 4.945 per troy ons. Kemudian apabila kembali naik, harga emas bisa melewati US$ 5.000 hingga mencapai US$ 5.152 per troy ons,” kata Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (19/4/2026).
Menurut Ibrahim, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan harga emas, yaitu ketegangan geopolitik yang belum mereda, fokus pasar terhadap dinamika pergantian kepemimpinan di bank sentral Amerika Serikat, serta perang dagang.
Adapun harga emas hari ini dibuka anjlok 1% ke level US$ 4.780,26 per troy ons. Padahal, pada akhir pekan lalu, harga emas ditutup menguat 0,87% ke US$ 4.830,43 per troy ons. Sepekan lalu, harga emas melonjak sebesar 1,73%.