JAKARTA, Detiktoday.com – PT Air Minum Jaya (PAM Jaya) mulai membuka peluang memanfaatkan pasar modal sebagai salah satu sumber pendanaan jangka panjang. Badan usaha milik daerah (BUMD) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu mengungkapkan progres persiapan menuju penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) telah mencapai sekitar 75%, meski keputusan final masih menunggu persetujuan pemegang saham.
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan, perseroan tengah mengkaji berbagai pendekatan pembiayaan (financing) yang dapat memperkuat perusahaan. Menurut dia, kajian tersebut menjadi salah satu agenda penting yang perlu disampaikan kepada publik.
“Kami sangat senang hari ini bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat dan publik bahwa kami sedang dalam proses memperbaiki infrastruktur perusahaan, sekaligus melakukan pergerakan yang masif agar pelayanan kami menjadi lebih baik lagi,” ujar Arief dalam acara Investor Daily Roundtable di Gedung BEI, Jakarta. Selasa (30/6/2026).
Sebagai bagian dari persiapan tersebut, PAM Jaya telah menunjuk sejumlah konsultan keuangan dan konsultan hukum. Secara keseluruhan, progres persiapan telah mencapai lebih dari 70%, bahkan mendekati 75-78%, sehingga secara diagnostik proses tersebut sudah berada di jalur yang tepat (on the track).
Meski demikian, menurut Arief, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu ditinjau kembali untuk mengevaluasi berbagai program yang telah dijalankan maupun direncanakan. Terlebih, tahun ini PAM Jaya telah memasuki usia 130 tahun, sehingga terdapat sejumlah aspek fundamental yang perlu diperbarui agar tetap relevan dengan perkembangan saat ini.
“Jadi, so far so good, so far on the track,” kata Arief.
Terkait rencana IPO, Arief mengungkapkan bahwa PAM Jaya telah melakukan dialog informal dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, pembahasan tersebut masih berada pada tahap awal dan seluruh proses akan dijalankan secara prudent dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang masih cukup volatil.
Karena itu, manajemen akan lebih dulu menyusun executive summary yang memberikan gambaran menyeluruh mengenai kesiapan infrastruktur perusahaan. Selanjutnya, keputusan apakah IPO akan menjadi skema pendanaan yang dipilih sepenuhnya akan dikembalikan kepada pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Dengan progres persiapan yang telah mencapai sekitar 75%, apabila seluruh proses berjalan kondusif, IPO diharapkan dapat terealisasi pada awal 2027. Namun, Arief menegaskan bahwa manajemen hanya bertugas menyiapkan seluruh persyaratan, sedangkan keputusan go atau not go tetap berada di tangan pemegang saham.
Selain IPO, PAM Jaya juga masih mengkaji berbagai alternatif pendanaan lain, termasuk menggandeng mitra strategis, memanfaatkan pasar sekunder, maupun menerbitkan obligasi (bonds). Seluruh opsi tersebut masih dalam tahap pendalaman sebelum diputuskan sebagai skema pembiayaan perusahaan.
Menurut Arief, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemegang saham pengendali, mendorong BUMD agar lebih mandiri dalam mencari sumber pendanaan. Karena itu, perusahaan diminta mengembangkan berbagai skema creative financing, sehingga tidak lagi bergantung pada pendanaan pemerintah.
“Pesan (menjajaki IPO) itu datang langsung dari Pak Gubernur, yang melihat potensi market yang bisa dijajaki. Di sisi lain memang ada tantangan pendanaan, sehingga BUMD diminta menjadi lebih independen. Dalam prosesnya kami menilai dan menjajaki semua opsi, termasuk pendanaan lewat pasar modal,” ujar Arief.
Meski demikian, dia menegaskan bahwa kondisi pasar tetap menjadi pertimbangan utama. Di tengah volatilitas yang masih tinggi, PAM Jaya memilih fokus memperkuat fundamental dan memperbaiki sisi operasional sambil menunggu momentum yang tepat untuk menghimpun dana dari pasar modal.
Di sisi lain, PAM Jaya menilai kepercayaan investor terhadap perusahaan cukup baik. Saat ini perseroan telah memiliki strategic partner, sementara skema public-private partnership juga telah berjalan. Menurut Arief, besarnya investasi yang telah ditanamkan mitra strategis menunjukkan bisnis pelayanan air memiliki daya tarik sebagai investasi jangka panjang.
“Karena memang bisnis pelayanan air ini menjadi salah satu fundamental investasi yang cukup besar,” ujar dia.
Dana yang dihimpun melalui skema pendanaan apa pun nantinya tidak hanya digunakan untuk pengembangan jaringan perpipaan, tetapi juga rehabilitasi pipa-pipa yang telah menua, penurunan tingkat non-revenue water, investasi teknologi, hingga pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
Arief memperkirakan kebutuhan investasi untuk rehabilitasi jaringan pipa di Jakarta saja mencapai sekitar Rp7-9 triliun. Setelah target pelayanan air bersih Jakarta tercapai pada 2029, PAM Jaya juga membuka peluang memberikan dukungan kepada PDAM lain di sekitar Jakarta.
Menurut Arief, potensi BUMD Jakarta sebenarnya sangat besar apabila aset yang telah diberikan pemerintah dapat dioptimalkan. Transformasi yang dilakukan PAM Jaya sejak mengambil alih pengelolaan operasional pada 2023 juga menunjukkan perkembangan positif dan membuka peluang baru untuk mengakses pendanaan dari pasar modal.
“Kami melihat beberapa potential investing yang memang bisa dipertahankan. Mudah-mudahan investor melihat ini sebagai sesuatu yang menarik, yang kemudian bisa kami gunakan untuk funding, baik melalui IPO maupun strategic partner,” kata Arief.