Pasar Emas Lagi-lagi Kehabisan Tenaga

Pasar Emas Lagi-lagi Kehabisan Tenaga

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Pasar emas di Asia kembali melihat permintaan yang lemah, imbas tingginya harga emas domestik di sejumlah negara.

Permintaan emas di India, yang dikenal sebagai negara konsumen emas terbesar kedua di dunia, dilaporkan relatif rendah minggu ini, karena harga emas domestik yang tinggi menekan pembelian ritel menjelang perayaan festival Akshaya Tritiya.

Akshaya Tritiya dikenal sebagai festival pembelian emas terbesar kedua setelah Dhanteras, di mana membeli emas dianggap membawa keberuntungan.

“Permintaan ritel tidak meningkat meskipun festival Akshaya Tritiya semakin dekat. Biasanya, pembeli ritel memesan emas jauh-jauh hari, tetapi tahun ini mereka tidak terlalu tertarik karena harga yang lebih tinggi,” kata seorang pedagang emas perhiasan yang berbasis di Bengaluru, India, dikutip dari Mining.com, Minggu (19/4/2026).

Harga emas domestik di India kini diperdagangkan sekitar 153.200 rupee per 10 gram, setelah naik menjadi 155.065 rupee awal minggu ini, level tertinggi dalam sebulan.

Dilaporkan juga, sejumlah bank di India telah menghentikan pesanan impor emas dan perak dari pemasok luar negeri, dengan berton-ton logam tersebut tertahan di bea cukai karena belum ada perintah resmi pemerintah yang mengizinkan impor emas batangan.

Tanpa adanya penambahan keteresediaan emas dari impor bank, harga premi di India biasanya akan melonjak, tetapi premi tersebut tidak naik tajam karena permintaan yang lemah dan penjualan dari dana yang diperdagangkan di bursa (ETF), kata seorang pedagang emas batangan yang berbasis di Mumbai.

Sementara itu, harga emas batangan di China diperdagangkan dengan premi US$ 3 hingga US$ 6 per troy ons di atas harga patokan global minggu ini, sedikit berubah dari premi minggu lalu sebesar US$ 3 hingga US$ 5.

“Harga premi (emas) di China telah turun menjadi hanya US$ 3 di tengah permintaan yang lemah,” kata Bernard Sin, direktur regional China di MKS PAMP.

“Dukungan saat ini terutama berasal dari pembelian bank sentral (China), meskipun penambahan cadangan biasanya melambat pada kuartal kedua, sehingga membatasi momentum,” ungkapnya.

Share