Jakarta, Detiktoday.com – Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ida Nurlaela Wiradinata, mengingatkan pemerintah agar tidak hanya melihat peluang dari rencana pengesahan Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada atau Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA), tetapi juga memperhatikan tantangan yang dapat memengaruhi daya saing industri nasional.
“Kemitraan ekonomi dengan Kanada memang membuka peluang baru, terutama pada sektor investasi dan transfer teknologi. Kanada dinilai memiliki potensi menjadi mitra strategis dalam pengembangan hilirisasi mineral, energi bersih, hingga sektor pangan nasional,” kata Hj Ida dalam rapat kerja bersama Menteri Perdagangan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, dikutup Kamis (21/5/2026).
Menurut Ida, implementasi perjanjian perdagangan tersebut membutuhkan strategi nasional yang matang agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk dan kepentingan ekonomi Kanada. Ia menilai pemerintah perlu memastikan bahwa kerja sama tersebut benar-benar memberikan manfaat nyata bagi industri dalam negeri.
“Kanada dapat menjadi sumber investasi dan teknologi bidang hilirisasi mineral, energi bersih, dan pangan. Tapi pertanyaannya, apakah kita bisa mengambil peluang itu atau justru Kanada yang lebih banyak mengambil untung dari kemitraan ini,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, Ida juga menyoroti kesiapan industri nasional, khususnya sektor tekstil dan produk turunannya, dalam menghadapi standar pasar Kanada yang dinilai cukup tinggi dan berpotensi menjadi hambatan bagi eksportir Indonesia.
“Pasar Kanada memiliki standar teknis yang cukup tinggi dan berpotensi menjadi hambatan bagi eksportir Indonesia. Beberapa persyaratan yang disoroti antara lain kewajiban uji kimia berstandar ISO 17025, pelabelan dwibahasa, hingga kewajiban penelusuran asal bahan baku secara rinci,” ucapnya.
Ia menjelaskan, keterbatasan laboratorium pengujian serta tingginya biaya kepatuhan masih menjadi persoalan yang dihadapi banyak pelaku usaha nasional. Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya fokus pada proses ratifikasi perjanjian perdagangan, tetapi juga memperkuat kesiapan domestik.
Ida menilai harmonisasi standar dan peningkatan kapasitas industri ekspor nasional menjadi langkah penting agar pelaku usaha Indonesia mampu bersaing dan memanfaatkan peluang pasar Kanada secara optimal.
“Saya berharap ada harmonisasi standar untuk membantu eksportir kita,” pungkasnya.