JAKARTA, Detiktoday.com – Beberapa investor memangdang emas sebagai aset yang tidak menghasilkan arus kas, tidak membayar dividen, dan tidak memiliki model valuasi konvensional. Namun, pengamat menilai, emas dapat disimpan sebagai tabungan alih-alih aset investasi.
“Emas bukanlah investasi, melainkan tabungan. Dalam jangka panjang, tujuan emas adalah sebagai penyimpan nilai,” kata CEO Morton Wealth, Jeff Sarti, dikutip dari Kitco News pada Jumat (24/4/2026).
Morton Wealth telah mengelola posisi emas sejak 2015, dan meskipun reli parabolik logam mulia di awal tahun menimbulkan antusias besar di pasar, Sarti menilai pergerakan tersebut membuatnya gugup.
Menurutnya, peran emas kerap disalahpahami, bahkan ketika prospek jangka panjangnya semakin kuat.
Pada intinya, Sarti memandang emas sebagai penyimpan nilai utama, yang telah bertahan lebih lama daripada setiap sistem mata uang fiat.
“Mata uang cadangan datang dan pergi, tetapi emas telah terbukti memainkan peran itu selama beberapa generasi,” jelas dia.
Meskipun banyak manajer dana menghindari emas karena sulit untuk dinilai sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil, Sarti menepis kekhawatiran tersebut.
“Saya lebih memilih melihat nilai emas sebesar US$ 2.500, bukan US$ 10.000. karena kalau di level US$ 10.000 berarti ada sesuatu yang sangat salah,” katanya.
Sarti menyebut, prospek bullish jangka panjang harga emas berakar pada kekhawatiran struktural tentang utang pemerintah dan kebijakan moneter. Dalam kondisi saat ini, ia mengatakan emas masih kurang dimiliki, terutama di kalangan investor institusional.
“Hampir tidak ada yang memiliki emas,” katanya, mengutip perkiraan bahwa portofolio global memiliki eksposur kurang dari 0,2%.
Kurangnya partisipasi tersebut dinilai menjadi penyebab reli harga emas masih dalam tahap awal, didorong oleh fundamental makro daripada kelebihan spekulatif yang meluas.