Pertama dalam Sejarah, Bank Sentral Dunia Mau Kurangi Simpanan Dolar ASPertama dalam Sejarah, Bank Sentral Dunia Mau Kurangi Simpanan Dolar AS

Pertama dalam Sejarah, Bank Sentral Dunia Mau Kurangi Simpanan Dolar ASPertama dalam Sejarah, Bank Sentral Dunia Mau Kurangi Simpanan Dolar AS

Share
Share

LONDON, Detiktoday.com – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, mayoritas bank sentral di dunia berencana untuk memangkas alokasi kepemilikan dolar Amerika Serikat (AS) mereka dalam satu dekade ke depan. Langkah ini diambil seiring dengan meningkatnya risiko politik yang membayangi mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

Fenomena pergeseran sentimen ini terungkap dalam survei tahunan terhadap para investor publik yang dirilis oleh lembaga pemikir Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) yang berbasis di London, Inggris pada Selasa (30/6/2026).

Temuan ini memperkuat perdebatan global mengenai posisi dolar AS sebagai mata uang cadangan devisa utama dunia. Posisi tersebut kini mulai digoyang oleh ketidakpastian kebijakan domestik AS serta meningkatnya risiko geopolitik global.

Survei yang melibatkan 90 bank sentral, dana pensiun publik, dan lembaga pengelola dana berdaulat (sovereign wealth funds) dengan total kelolaan aset mencapai US$ 10 triliun ini juga menangkap sinyal lain: adanya urgensi besar untuk mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) secara masif.

Para pelaku pasar publik kini memandang volatilitas ekonomi bukan lagi fase sementara, melainkan fitur permanen di pasar global. Mereka pun mulai menguji berbagai pendekatan baru untuk meredam risiko tersebut, termasuk memanfaatkan AI.

“Asumsi lama yang menyebut investor publik bisa menunggu sampai situasi kembali normal kini terlihat semakin tidak realistis,” tulis Ekonom Senior OMFIF Yara Aziz dalam laporan tersebut.

Memudarnya Dolar dan Berkilunya Emas

Meski pamornya diprediksi menyusut dalam jangka panjang, untuk saat ini belum ada mata uang tunggal yang benar-benar mampu menggantikan posisi dolar AS. Sepanjang tahun ini, dolar bahkan sempat menguat 3% yang dipicu oleh tingginya suku bunga AS, besarnya minat terhadap aset-aset AS, serta statusnya sebagai aset aman (safe haven) akibat eskalasi perang antara AS dan Iran.

Kendati demikian, sebanyak 79% bank sentral dan 60% lembaga dana publik meyakini bahwa sistem moneter global sedang bertransisi menuju dunia yang multipolar (banyak kutub).

Mata uang di luar kelompok “delapan besar” perlahan mulai mendapatkan tempat sebagai aset cadangan devisa. Bank-bank sentral dilaporkan mulai melirik dan meningkatkan alokasi pada mata uang krona Norwegia, dolar Selandia Baru, hingga poundsterling Inggris.

Di sisi lain, keinginan untuk menambah kepemilikan euro dan yuan China sebenarnya tetap ada. Namun, para responden menilai tantangan struktural di masing-masing kawasan masih menjadi ganjalan bagi kedua mata uang tersebut untuk berkembang lebih jauh. Meski begitu, hampir seluruh responden tetap menganggap yuan sebagai alat diversifikasi portofolio yang efektif.

Seiring merosotnya kepercayaan pada mata uang kertas, emas justru semakin berkilau. Komoditas yang kini digenggam oleh 82% bank sentral dunia ini telah mencetak serangkaian rekor harga tertinggi baru.

“Emas kini telah bergeser ke pusat strategi manajemen cadangan devisa,” tulis laporan OMFIF. Dalam jangka pendek, emas menjadi aset utama yang paling diincar, di mana 30% responden menyatakan berniat meningkatkan alokasi emas mereka dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Share