JAKARTA, Detiktoday.com – Investor asing terpantau berubah sikapnya terhadap saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA pada perdagangan Senin (25/5/2026) kemarin dengan membukukan net buy Rp 82,15 miliar.
Itu berbeda dari empat hari bursa sebelumnya, di mana investor asing selalu mencetak net sell di saham BBCA.
Harga saham Bank Central Asia pun ditutup menguat 3,39% ke Rp 6.100 kemarin setelah dua hari bursa sebelumnya selalu memerah.
Sebanyak 263,18 juta saham Bank Central Asia (BBCA) diperdagangkan, frekuensi 37.435 kali, dan nilai transaksi Rp 1,60 triliun.
CGS International Sekuritas merilis hitung-hitungannya untuk saham BCA pada perdagangan Selasa (26/5/2026).
Broker efek tersebut menaksir saham BCA bisa bergerak naik dengan resistance pertama 6.208 dan resistance kedua 6.317.
Tapi waspadai jika saham ini menyentuh pivot 6.067 dengan berpotensi bergerak turun ke support pertama 5.958 dan support kedua 5.817.
Di sisi lain, Maybank Sekuritas dalam ulasannya kemarin menyebut pengumuman FTSE Russell relatif tidak menimbulkan kekhawatiran karena hanya empat saham yang dikeluarkan—DSSA (masuk HSC list), DAAZ (free float tidak memadai), serta HILL dan MLIA (tidak memenuhi persyaratan)—tanpa adanya kejutan “negatif” signifikan.
Kondisi ini, sebut Maybank Sekuritas, mengindikasikan potensi outflow yang lebih kecil dan memberi sentimen positif pasar, dengan perhatian kini beralih ke rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026, sementara saham yang masih berada di dua indeks global berpeluang mendapat keuntungan.
Termasuk saham-saham yang masih di MSCI di antaranya adalah saham BBCA.