JAKARTA, Detiktoday.com – Analis di bank investasi ternama asal Amerika Serikat, Goldman Sachs memproyeksi harga emas dunia akan kembali memasuki tren kenaikan meski tengah memasuki tren penurunan tajam selama empat bulan terakhir.
Dikutip dari Kitco News, Rabu (1/7/2026), kepala riset komoditas global di Goldman Sachs, Samantha Dart memproyeksi permintaan bank sentral yang kuat akan mendorong harga emas kembali ke ambang US$ 5.000 per troy ounce.
“Emas belum selesai. Kami terus melihat potensi kenaikan lebih lanjut, didorong oleh faktor struktural dan akhirnya siklikal,” kata Dart dalam catatan riset terbaru timnya.
Dart merujuk pada tingginya minat bank sentral global terhadap logam mulia ssebagai faktor kunci yang mendorong harga emas kembali mendapat momentum di paruh kedua tahun ini.
“Secara struktural, diversifikasi bank sentral negara berkembang, setelah pembekuan cadangan Rusia pada tahun 2022 tetap menjadi pendukung perkiraan kami (harga emas sebesar US$ 4.900/ons pada akhir tahun 2026,” bebernya.
“Dalam jangka menengah, risiko terhadap perkiraan harga emas kami tetap condong ke atas secara keseluruhan,” kata Dart, menunjuk pada pendorong makro seperti kekhawatiran tentang keberlanjutan fiskal negara Barat yang pada akhirnya mempercepat diversifikasi investor swasta ke emas.
Bank tersebut kini memperkirakan bank sentral global akan rata-rata membeli sekitar 60 ton emas per bulan hingga akhir 2026, didukung oleh diversifikasi permintaan yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian geopolitik.
Goldman Sachs juga melihat adanya peluang harga emas menyentuh US$ 5.400 per troy ounce pada akhir tahun 2026, tetapi memperingatkan bahwa harga emas batangan masih dapat menghadapi tekanan jangka pendek jika investor terpaksa menjual aset likuid untuk mendapatkan uang tunai selama tekanan pasar.