Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp 17.550 Pekan Depan

Prediksi Rupiah di Pekan Pertama Juni 2026

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi akan semakin mengalami pelemahan pada pekan depan.

Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi memprediksi, rupiah akan menembus Rp 18.150 per dolar AS pada pekan pertama bulan Juni 2026.

Dia juga mengungkap, indeks dolar dalam sepekan ke depan juga akan diperdagangkan di kisaran 98,1 sampai 101. Ada kemungkinan dolar AS kembali mengalami penguatan.

Adapun ada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), mata uang rupiah ditutup melemah 35 poin terhadap dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah 55 poin di level Rp 17.880 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.845.

Faktor yang mempengaruhi dolar AS menguat dan rupiah melemah, pergerakan harga emas hingga logam mulia, yakni dari faktor geopolitik. Ibrahim mengatakan, faktor geopolitik terlihat dari konflik yang belum selesai di Selat Hormuz.

Meski begitu, keputusan untuk kesepakatan damai sudah ada di tangan Presiden AS Donald Trump yang kemungkinan besar dalam pekan ini akan diumumkan.

Ibrahim menjelaskan, Inggris melalui badan operasi perdagangan maritim juga memperingatkan terhadap dunia internasional bahwa blokade militer di pelabuhan Iran masih berlaku sehingga membatasi lalu lintas masuk dan keluar.

Walaupun banyak kapal yang sudah mendapatkan izin keluar dari Iran melalui Selat Hormuz, tetapi di laut internasional ini kapal-kapal yang sudah keluar dari Selat Hormuz juga disuruh kembali lagi ke dalam, masuk ke Selat Hormuz.

Menurutnya, hal ini yang membuat transportasi masih akan tersedat sehingga membuat inflasi akan tetap tinggi. 

Inflasi tinggi akan mempengaruhi Bank Sentral Amerika untuk tetap mempertahankan suku bunga, bahkan akan menaikkan suku bunga satu kali. 

Harga-harga di Amerika, terutama gasolin terus mengalami kenaikan, ini yang berdampak terhadap inflasi sehingga inflasi tinggi akan berdampak terhadap pernyataan dari Bank Sentral Amerika yang kemungkinan besar dalam pertemuan Juni masih akan mempertahankan suku bunga tinggi.

“Ini sebenarnya yang membuat dolar menguat cukup tajam. Di sisi lain pun juga pada saat harga emas dunia maupun logam mulia mengalami penurunan, ini adalah kesempatan bagi Bank Sentral Global untuk membeli logam mulia secara besar-besaran,” tambahnya.

Ibrahim mengatakan, perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz kemungkinan besar akan selesai, dan ini akan dimanfaatkan oleh para investor untuk mengoleksi logam mulia.

Sedangkan, tensi geopolitik masih akan panjang terutama di Eropa antara Rusia dan Ukraina kemudian di Timur Tengah antara Israel, Libanon dengan Hamas, Palestina yang kemungkinan besar sampai tahun 2027 akan terus terjadi.

Menurutnya, hal itu yang akan membuat harga emas dan logam mulia terjadi fluktuasi, rupiah pun juga terus mengalami pelemahan.

Share