Sleman, Detiktoday.com – Proses pemugaran cagar budaya di kawasan Candi Prambanan dinilai berjalan sangat lambat. Padahal, ada sekitar 200 candi perwara (candi kecil) di kompleks tersebut yang membutuhkan restorasi mendesak demi menyelamatkan nilai sejarah bangsa.
Ketua Panitia Kerja (Panja) Pelindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, mengungkapkan bahwa biaya rekonstruksi untuk satu candi perwara mencapai Rp2 miliar. Jika proses pemugaran hanya mengandalkan ritme saat ini—yakni satu candi per tahun—maka dibutuhkan waktu hingga dua abad untuk menyelesaikan seluruh kompleks Prambanan.
Oleh karena itu, Komisi X DPR RI mengusulkan adanya terobosan berupa penggelontoran dana percepatan mulai dari puluhan miliar hingga Rp1 triliun.
Baca: Ganjar Dukung KPK Perketat Syarat Pemimpin
“Mungkin saja kita gelontorkan dengan sebuah percepatan, misalnya kita keluarkan anggaran signifikan dulu. Orang mungkin bertanya mengapa anggaran besar hanya untuk candi, tetapi ini adalah sejarah besar berdirinya republik ini, tonggak perjalanan bangsa yang juga destinasi wisata internasional,” ujar Esti saat memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X di Kompleks Candi Prambanan, Sleman, D.I. Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Selain kendala finansial, tantangan berat yang dihadapi di lapangan adalah terputusnya regenerasi tenaga ahli pemugar. Saat ini, semakin sedikit perajin yang menguasai “ilmu titen”, sebuah keahlian otodidak berbasis pengalaman mendalam untuk mengidentifikasi dan mencocokkan susunan batu candi secara presisi.
Legislator asal Daerah Pemilihan (Dapil) DIY ini pun mendesak pemerintah untuk melonggarkan sistem perekrutan. Tujuannya agar para praktisi lokal yang memiliki kemampuan langka tersebut dapat dilibatkan kembali secara formal tanpa terganjal birokrasi yang kaku.
“Tidak ada regenerasi lagi karena tidak ada perekrutan. Jika perekrutannya dibuat dengan sistem (fleksibel) seperti dulu lagi, hal ini memungkinkan kita menarik mereka yang selama ini sudah ikut ambil bagian dengan ilmu titen-nya. Pengalaman mereka akan sangat membantu mempercepat proses penyusunan kembali candi,” urai politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Di sisi lain, Komisi X juga menyoroti mahalnya harga tiket masuk ke kawasan Candi Prambanan bagi pelajar domestik. Mereka meminta pihak pengelola, PT Taman Wisata Candi (TWC), untuk segera memformulasikan skema tarif khusus yang ramah kantong bagi anak sekolah.
Esti menegaskan bahwa Candi Prambanan harus menjadi ruang edukasi yang inklusif, bukan sekadar objek wisata komersial.
“Harapannya, pengelola bisa memberikan kemudahan bagi anak-anak pelajar domestik kita untuk mempelajari sejarah. Jadi, mereka tidak sekadar melihat batu, tetapi juga memahami proses filosofi dan kesejarahannya tentang mengapa situs ini harus dipertahankan,” pungkasnya.