Rupiah Lesu, Yield SUN Diprediksi Lanjut NaikRupiah Lesu, Yield SUN Diprediksi Lanjut Naik

Rupiah Lesu, Yield SUN Diprediksi Lanjut NaikRupiah Lesu, Yield SUN Diprediksi Lanjut Naik

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pekan depan diperkirakan menjadi salah satu momentum penting bagi pasar obligasi domestik pada semester I-2026. Tekanan rupiah, tingginya volatilitas global, serta meningkatnya sensitivitas investor terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah diperkirakan akan memengaruhi hasil lelang.

Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan dinamika yield dalam lelang kali ini tidak lagi hanya ditentukan faktor likuiditas domestik, tetapi juga dipengaruhi persepsi pasar terhadap akumulasi risiko ekonomi makro.

Menurut Yusuf, pergerakan nilai tukar rupiah masih menjadi faktor paling dominan. Selama rupiah bertahan di kisaran Rp 17.500 per dolar AS, investor asing diperkirakan tetap cenderung defensif terhadap pasar obligasi Indonesia. Adapun merujuk data Investing, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 17.465 per dolar AS pada Sabtu kemarin, turun 0,57% dibanding penutupan pada pekan sebelumnya.

“Ketika rupiah tertekan, investor asing biasanya meminta spread yield yang lebih lebar dibandingkan US Treasury untuk mengompensasi currency risk dan potensi capital loss. Tekanan di pasar sekunder mau tidak mau akan terbawa ke pasar primer,” ujar Yusuf kepada Investor Daily, Minggu (17/5/2026).

Meski kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) kini turun ke kisaran 14–15%, Yusuf menilai investor global masih berperan sebagai penentu harga, khususnya untuk tenor menengah hingga panjang.

Di tengah kondisi tersebut, perbankan domestik diperkirakan menjadi pembeli utama dalam lelang SBSN pekan depan. Likuiditas yang relatif longgar setelah jatuh tempo SRBI dan sejumlah seri SBN dinilai memberi ruang bagi bank untuk kembali masuk ke pasar obligasi.

Namun, Yusuf menilai minat perbankan tetap akan selektif di tengah volatilitas pasar yang tinggi.

“Dalam situasi volatilitas tinggi, perbankan cenderung lebih selektif terhadap duration risk. Kenaikan yield kecil saja bisa menciptakan tekanan mark-to-market yang cukup besar pada portofolio mereka,” ujarnya.

Di samping itu, pasar juga mulai mengantisipasi kemungkinan Bank Indonesia (BI) mempertahankan kebijakan hawkish lebih lama guna menjaga stabilitas rupiah. Kondisi ini membuat tenor pendek 1–3 tahun menjadi segmen yang paling sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.

“Tenor pendek saat ini jauh lebih peka dibanding beberapa bulan lalu. Setiap perubahan pandangan BI langsung tercermin pada yield tenor pendek,” kata Yusuf.

Dari eksternal, yield US Treasury yang masih bertahan di kisaran 4,3–4,5% dinilai menjadi penghambat penurunan yield obligasi domestik. Walaupun spread Indonesia masih relatif menarik secara nominal, volatilitas rupiah dinilai mengurangi daya tarik investasi riil.

“Walaupun ada ekspektasi The Fed mulai dovish, pasar emerging market belum sepenuhnya menikmati capital inflow yang stabil,” ujar Yusuf.

Yield SUN Berpotensi Naik

Share