Saham BBCA Dihantam Bertubi-tubi, Segini Batasnya

Saham BBCA Dihantam Bertubi-tubi, Segini Batasnya

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA dihantam investor asing selama tiga hari berturut-turut. Pada perdagangan Jumat (17/4/2026), net sell asing di saham emiten big bank ini Rp 522,73 miliar.

Sedangkan di 15 dan 16 April, saham Bank Central Asia mencetak net sell investor asing masing-masing Rp 263,83 miliar serta Rp 369 miliar.

Dalam satu pekan terakhir, saham BBCA membukukan net sell asing Rp 995,23 miliar dan harga sahamnya terpeleset 4,10%.

Pada perdagangan kemarin, saham BCA diparkir di Rp 6.425 (-1,53%).

Kiwoom Sekuritas dalam analisanya untuk perdagangan kemarin melihat level 6.425 merupakan garis support kedua saham BBCA. Broker efek tersebut merekomendasikan stoploss saham ini di level 6.325.

Sementara itu, analis pasar modal memproyeksikan bahwa saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan kembali menguat setelah mengalami penurunan cukup signifikan sejak awal tahun 2026. Sebab, BBCA memiliki fundamental kuat terutama dari sisi kinerja keuangan yang terus tumbuh berkelanjutan.

BBCA mencetak laba bersih sepanjang tahun 2025 sebesar Rp 57,5 triliun atau meningkat 4,9% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 54,8 triliun.

Sebagai bank jumbo, BBCA sedang mengalami anomali harga saham yang relatif langka. Di saat laba perusahaan terus mencetak rekor fantastis, harga sahamnya justru terus turun dalam kisaran Rp6.500 per lembar saham (jauh di bawah level psikologis Rp7.000).

Pengamat pasar modal Rendy Yefta menjelaskan, bagi para investor fenomena ini menjadi salah satu sinyal beli untuk saham BBCA. Pasalnya, fenomena ini seperti bom waktu capital gain yang tinggal menunggu pemicunya meledak.

Menurut dia, secara historis, pasar selalu menghargai kualitas BBCA dengan valuasi premium. Sebagai penguasa pasar, saham ini biasanya melenggang santai di tingkat rasio price to book value (PBV) normalnya di kisaran 4x hingga 5x. Namun, dipicu kepanikan sesaat di bursa global dan rotasi sektor, BBCA dipaksa turun drastis. 

“Ini adalah fenomena undervalued yang sangat langka untuk saham sekelas kasta tertinggi (blue chip super). Mengambil BBCA di harga di bawah Rp7.000 ibarat Anda memungut Mercy di showroom dengan harga Avanza,” ungkap dia dalam keterangannya, Rabu (8/4/2026).

Dia memproyeksikan bahwa saat kepanikan pasar mereda, harga BBCA tidak akan berjalan merangkak, tetapi berlari kencang kembali menuju normalisasi valuasinya di level PBV 4x. Potensi lonjakan keuntungan (capital gain)-nya sangat masif bagi siapa pun yang berani mengambil posisi di bawah.

Para investor perlu mencermati kinerja BBCA triwulan I-2026 yang segera dirilis ke publik. Dengan tren efisiensi dan penyaluran kredit yang terus melesat, laporan bulan April ini diprediksi akan kembali memamerkan angka laba jumbo yang menyilaukan mata pasar.

“Ketika laporan resmi itu keluar, institusi besar dan manajer investasi raksasa akan berebut masuk kembali. Jika Anda baru mau membeli saat berita bagus itu menyebar di publik, maka akan terlambat. Anda akan terpaksa membeli di harga pucuk. Orang bijak mengumpulkan emas saat harganya sedang jatuh ke lumpur, bukan saat semua orang sedang antre membelinya di toko,” ungkap dia.

Jika ingin mengakumulasi BBCA pada hari ini di harga diskon, jelas dia, investor bukan sekadar trading untuk mencari uang rokok minggu depan. Investor sedang membeli sebuah aset kelas wahid dan sedang memiliki sepotong hak kepemilikan dari bank swasta terbaik di Asia Tenggara.

“Ketika harga sudah terbang kembali ke habitat aslinya dan dividen demi dividen terus mengalir deras ke rekening Anda setiap tahun, Anda akan menengok ke belakang dan tersenyum puas. Anda akan menyadari bahwa keputusan mengamankan saham BBCA di saat harganya tertekan adalah salah satu keputusan finansial paling brilian dalam hidup Anda,” jelas Rendy.

Share