Surakarta, Detiktoday.com – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, mendorong Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta untuk segera melakukan rebranding dan inovasi kelembagaan.
Hal itu ditegaskannya saat memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke akademi tersebut di Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (22/5).
Evita menilai, lembaga pendidikan vokasi ini sebenarnya memiliki infrastruktur yang sangat memadai. Sayangnya, fasilitas megah tersebut belum berbanding lurus dengan jumlah mahasiswa yang mendaftar. Jika dibiarkan, kondisi ini dikhawatirkan membuat anggaran negara menjadi sia-sia.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
“Kita melihat infrastrukturnya sangat mewah, tetapi jumlah mahasiswanya masih kecil. Kalau tidak ada perubahan, ini menjadi wasting (mubazir). Karena itu harus ada rebranding dan inovasi baru agar minat anak-anak masuk ke akademi ini meningkat,” ujar Evita.
Politisi Fraksi PDI Perjuangan itu juga menyoroti kesenjangan teknologi antara dunia kampus dan kebutuhan industri nyata. Berdasarkan pantauannya di lapangan, para mahasiswa masih menggunakan mesin praktik yang konvensional, padahal industri tekstil modern saat ini sudah berbasis digital dan otomatisasi.
“Ketika masuk ke industri, mesin yang digunakan sudah modern. Kalau di kampus masih belajar dengan mesin konvensional, lulusannya menjadi belum sepenuhnya siap pakai,” jelasnya.
Untuk mengatasi keterbatasan anggaran pemerintah, Evita mendesak Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama pihak akademi untuk memperluas kolaborasi dengan pelaku industri. Skema ini bisa diwujudkan lewat program magang, beasiswa, hingga pembaruan kurikulum.
Ia bahkan mengusulkan agar jenjang pendidikan di akademi tersebut ditingkatkan dari Diploma 2 (D2) ke Diploma 4 (D4) atau sarjana terapan agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
“Kalau anggaran pemerintah sedang efisiensi, kita harus cari jalan keluar lain. Kemenperin bisa menggandeng pihak industri. Mahasiswa dapat magang langsung di sana untuk mempelajari teknologi terbaru,” tutur Evita.
Di sisi lain, Evita berharap lulusan Akademi Tekstil Surakarta tidak hanya dicetak sebagai buruh pabrik, melainkan juga dibentuk menjadi wirausahawan baru di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). Guna merealisasikan hal ini, ia mendorong adanya sinergi lintas kementerian, termasuk dengan kementerian yang membidangi UMKM.
“Mahasiswa yang belajar menjahit atau memproduksi tekstil tidak harus selalu bekerja ikut orang. Mereka juga bisa berwirausaha. Perlu kerja sama lintas lembaga agar setelah lulus, mereka memiliki jaminan pekerjaan atau peluang usaha yang jelas,” pungkasnya.