ISLAMABAD, Detiktoday.com – Harapan baru muncul di tengah berkecamuknya perang delapan pekan antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Menteri Luar Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mendarat di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (24/4/2026).
Kunjungan ini memicu spekulasi kuat mengenai upaya menghidupkan kembali negosiasi damai demi mengakhiri konflik yang telah melumpuhkan pasar energi global.
Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal optimistis. Ia menyatakan, pihak Iran berencana mengajukan penawaran untuk memenuhi tuntutan AS. Meski mengaku belum mengetahui rincian proposal tersebut, Trump menegaskan pihaknya terus menjalin komunikasi dengan otoritas tertinggi di Iran.
“Saya tidak ingin menyebutkan siapa, tapi kami sedang berurusan dengan orang-orang yang berkuasa di sana sekarang,” ujar Trump seperti dikutip Reuters, Sabtu (25/4/2026).
Pakistan Jadi Mediator di Tengah Ketegangan
Meskipun Gedung Putih mengonfirmasi keberangkatan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Pakistan, pihak Iran masih bersikap hati-hati. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan, pejabat mereka tidak berencana menemui perwakilan AS secara langsung. Pesan-pesan diplomasi Iran nantinya akan disampaikan melalui Pakistan sebagai penengah.
Keseriusan negosiasi ini juga terlihat dari kehadiran tim logistik dan keamanan AS yang sudah lebih dulu tiba di Islamabad. Penjagaan militer dan paramiliter pun diperketat di pusat kota guna mengamankan jalannya diplomasi di Hotel Serena, lokasi yang sama saat putaran pertama perundingan digelar.
Dunia Menanti “Kran” Selat Hormuz Dibuka
Konflik ini telah membawa kedua negara ke titik buntu yang sangat merugikan. Iran menderita akibat blokade ekspor minyak, sementara Amerika Serikat menghadapi lonjakan harga bensin tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Dampak paling nyata dirasakan di Selat Hormuz, jalur energi tersitategis dunia. Jika biasanya terdapat 130 kapal melintas setiap harinya, dalam 24 jam terakhir hanya tercatat lima kapal yang melintas. Blokade ini menyumbat sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, Iran kini memiliki kesempatan emas untuk mencapai “kesepakatan yang menguntungkan” (good deal) dengan Amerika Serikat.
Syarat Gencatan Senjata di Lebanon
Di sisi lain, perdamaian antara Iran dan AS juga sangat bergantung pada situasi di Lebanon. Kelompok Hizbullah, sekutu dekat Iran, baru saja menolak perpanjangan gencatan senjata tiga pekan dengan Israel. Mereka menuding Israel masih terus melakukan serangan udara dan pembunuhan di wilayah Lebanon selatan.
Teheran sendiri telah menetapkan syarat bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan prasyarat mutlak bagi keberlanjutan dialog perdamaian dengan Amerika Serikat.
Saat ini, mata dunia tertuju pada Islamabad. Apakah pertemuan ini akan menjadi titik balik kembalinya stabilitas energi dunia, atau justru menjadi kegagalan diplomasi kesekian kalinya di bawah kepemimpinan Trump?
Perang antara Iran dan Amerika Serikat yang pecah delapan pekan lalu telah memicu krisis energi paling parah dalam sejarah modern. Ketegangan memuncak saat Iran memblokade Selat Hormuz sebagai balasan atas kampanye pengeboman AS dan pembatasan ekspor minyak mereka.
Akibatnya, harga minyak dunia melonjak drastis, dengan Brent berada di kisaran US$ 105 per barel. Donald Trump, yang kembali menjabat sebagai Presiden AS, kini berada di bawah tekanan besar untuk menstabilkan harga energi domestik dan memulihkan arus perdagangan global yang sempat terhenti total di jalur-jalur strategis tersebut.