Jakarta, Detiktoday.com – Rencana pemindahan lokasi pembangunan Alun-Alun Kepanjen dari area Pendopo Kabupaten ke kawasan Stadion Kanjuruhan menuai dinamika politik.
Menanggapi kritik dari Partai Gerindra yang meminta rencana tersebut dikaji ulang, Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang memberikan respons santai namun menohok.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang, Abdul Qodir, menyatakan bahwa perbedaan pandangan dalam iklim demokrasi adalah hal yang lumrah. Menurutnya, politik tidak harus selalu melahirkan suara yang seragam.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
“Demokrasi memang tidak dibangun dari suara yang seragam, tetapi dari perbedaan cara pandang yang dipertemukan lewat akal sehat dan kepentingan rakyat. Politik bukan lomba paduan suara yang semua nadanya harus sama,” ujar pria yang akrab disapa Adeng tersebut kepada wartawan, Selasa (26/5/2026).
Politisi yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang ini menganalogikan dinamika parpol seperti respons anak-anak di dalam sebuah keluarga ketika orang tua mengambil keputusan strategis.
Adeng menilai, ada pihak yang sudah berpikir dewasa dengan melihat kemanfaatan jangka panjang, namun ada pula yang meresponsnya dengan egoisme sesaat.
“Ada anak yang sudah dewasa cara berpikirnya, ia akan melihat substansi kebijakan dan menghitung manfaat jangka panjang. Namun, kadang ada ‘anak bungsu’ yang cenderung labil dan kolokan; sedikit-sedikit protes, sedikit-sedikit manyun. Kadang bukan karena kebijakannya salah, tetapi karena ada kepentingan kecil yang takut kehilangan tempat bermainnya,” tegas politisi pencinta musik jazz tersebut.
Lebih lanjut, Adeng menganggap protes yang muncul di panggung politik kerap kali bukan menyasar substansi kebijakan, melainkan hanya bagian dari upaya menaikkan nilai tawar (bargaining position).
“Bahasa sederhananya: kalau belum dapat mainan baru, ya belum mau diam,” selorohnya.
Sebagai partai yang sejak awal menginisiasi dan mendukung penuh penataan wilayah ini, PDI Perjuangan memandang perbedaan sikap Gerindra sebagai tantangan komunikasi politik. Adeng menyebut tugas partai senior seperti PDI Perjuangan adalah merangkul, bukan memusuhi.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
PDI Perjuangan menegaskan bahwa proyek Alun-Alun Kepanjen di lokasi baru bukan sekadar pembangunan taman kota biasa. Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi pusat peradaban baru, pusat pintar (smart center) rakyat, ruang interaksi publik modern, hingga wadah pertumbuhan UMKM dan ekspresi seni budaya.
Selain itu, pemilihan lokasi di kawasan stadion dinilai strategis untuk mengurai potensi kemacetan dan penumpukan massa saat ada agenda besar.
“Jadi, kalau hari ini masih ada yang sibuk memperdebatkan titik koordinatnya, kami memilih fokus memikirkan masa depannya. Sejarah pembangunan biasanya memang begitu: yang berpikir jauh ke depan sering dituduh terlalu cepat, sementara yang tertinggal biasanya baru paham ketika bangunannya sudah jadi,” pungkas Adeng.
Sebelumnya, Ketua DPC Gerindra Kabupaten Malang, Chusni Mubarok, meminta pemerintah daerah mengkaji ulang pemindahan lokasi alun-alun ini agar asas efektivitas dan fungsi awalnya tetap terjaga.