Teknologi SPPOT, Solusi Industri Sawit Minim Limbah dan Kaya VitaminTeknologi SPPOT, Solusi Industri Sawit Minim Limbah dan Kaya Vitamin

Teknologi SPPOT, Solusi Industri Sawit Minim Limbah dan Kaya VitaminTeknologi SPPOT, Solusi Industri Sawit Minim Limbah dan Kaya Vitamin

Share
Share

Banyak Insentif

Kemenperin menegaskan, penerapan wet-process tidak akan dihentikan mendadak demi menghindari guncangan industri akibat lompatan skala operasional terlalu ekstrem. Sebagai stimulasi, pemerintah menyiapkan berbagai insentif bagi industri yang mengadopsi teknologi lokal berkadar TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) tinggi, seperti mekanisme reimbursement biaya investasi 30-35%, pemanfaatan skema KIPK, serta pengurangan bunga bank 5%.

Krisna menuturkan, transformasi menuju dry-process menjanjikan masa depan sawit Indonesia yang lebih hijau dan bernilai tinggi. Namun demikian, keberhasilan penerapan teknologi SPPOT itu akan sangat bergantung pada kejelasan regulasi, standardisasi SNI baru untuk PMO, kemudahan perizinan, serta jaminan kelancaran arus kas (cash flow) bagi para petani rakyat yang menjadi ujung tombak pasokan energi hijau tersebut.

Sentimen pasar atas rencana penerapan teknologi SPPOT itu sangat baik. Pelaku usaha sawit yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mendukung penerapan teknologi tersebut. Ketua Bidang Perkebunan Gapki R Azis Hidayat mengatakan, teknologi dry-process sangat menjanjikan bagi industri. Hanya saja, realitas di sektor hulu sawit juga perlu menjadi perhatian sebelum teknologi itu diterapkan secara massal.

Meski teknologi dry-process merupakan angin segar, tapi Gapki juga mengingatkan pentingnya memperkuat sektor hulu sebelum melangkah terlalu jauh ke hilir. “Salah satu masukan kami adalah pemerintah perlu menyusun roadmap kapasitas PKS agar tidak terjadi kelebihan kapasitas (over-capacity) serta memetakan posisi PKS swadaya,” papar Azis.

Keberlanjutan Industri

Sementara itu, Ketua Bidang PKS Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) Posma Sinurat, sekaligus Ketua Panitia TPOMI 2026, mengatakan, industri sawit Indonesia yang telah berusia lebih dari satu abad yakni 115 tahun bersiap menghadapi transformasi besar. Transformasi itu diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan PKS antara lain menekan emisi menuju dekarbonisasi serta memangkas limbah secara signifikan.

Guna menjawab kebutuhan itu, gelaran TPOMI 2026 hadir sebagai ajang utama sekaligus wadah strategis yang mempertemukan seluruh ekosistem kelapa sawit nasional. “TPOMI adalah forum transformasi dan talenta PKS Indonesia. Ajang ini menjembatani praktisi, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, vendor teknologi, media, hingga mahasiswa. TPOMI 2026 hadir untuk mengatasi tantangan PKS di masa depan,” kata Posma. Di TPOMI 2026 akan dibahas intensif tentang lompatan teknologi dari konvensional (wet-process) menuju proses kering (dry-process) yang digadang-gadang menjadi kunci dekarbonisasi sekaligus hilirisasi produk bernilai tambah tinggi.

TPOMI 2026 diselenggarakan 8-10 Juli 2026 di Medan, forum itu bertepatan dengan momentum 115 tahun sawit komersial di Indonesia. Dengan mengusung tema Hilirisasi Komoditi Perkebunan Menuju Sawit Pilar Indonesia Emas 2045, TPOMI 2026 fokus pada pembaruan teknologi dan talenta (Updating Technology & Talent Palm Oil Mill and Downstream). “Di momentum 115 tahun sawit Indonesia, saatnya berpaling ke smart & data-driven mill,” jelas Posma.

Fokus updating teknologi adalah dari pabrik reaktif menuju smart, prediktive, dan data-driven palm oil mill. Hal itu lantaran pada banyak pabrik sawit, pengambilan keputusan operasional saat ini masih tergantung pada pengalaman individu, pencatatan manual, dan reaksi setelah masalah terjadi.

Karenanya, TPOMI mendorong adopsi teknologi yang langsung menyentuh profititablitas yaitu losses turun, downtime turun, energi lebih efisien, dan keputusan lebih akurat. Teknologi meliputi AI, IoT, otomatisasi, predictive maintenance, dan sustainability. “Prinsipnya, teknologi harus aplikatif, terukur dan memberi dampak nyata terhadap efisiensi, produktivitas, K3, dan keberlanjutan pabrik,” kata Posma.

Share