NEW YORK, Detiktoday.com – Indeks-indeks saham Wall Street mayoritas ditutup terkoreksi pada perdagangan Rabu (29/4/2026). Tekanan utama datang dari lonjakan harga minyak dunia serta sikap The Fed yang kembali menahan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi yang belum mereda.
Dikutip dari CNBC internasional, indeks Dow Jones Industrial Average turun 280,12 poin atau 0,57% ke level 48.861,81, mencatat pelemahan hari kelima berturut-turut. S&P 500 nyaris stagnan dengan koreksi tipis 0,04% ke 7.135,95. Sementara Nasdaq Composite malah naik tipis 0,04% ke 24.673,24.
Sentimen pasar dibayangi lonjakan harga minyak yang kembali menguat tajam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 7,17% ke US$ 107,16 per barel, sementara Brent naik 6,78% ke US$ 118,80 per barel.
Kenaikan ini dipicu laporan bahwa Amerika Serikat (AS) memperluas blokade terhadap pelabuhan Iran, serta penolakan Presiden Donald Trump terhadap proposal Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz hingga tercapainya kesepakatan program nuklir.
Lonjakan energi ini kembali menyalakan kekhawatiran inflasi global, yang menjadi sentimen negatif bagi Wall Street.
Tekanan pasar bertambah setelah The Fed kembali mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% dalam keputusan yang terbelah, dengan voting 8–4, tingkat dissent atau suara penolakan tertinggi sejak 1992.
Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan, kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi jangka pendek, memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.
Kondisi ini membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham-saham di Wall Street.
Fokus Raksasa Teknologi