JAKARTA, Detiktoday.com – Di tengah euforia investor yang berbondong-bondong memadati pasar saham demi memburu keuntungan dari tren kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI), dua maestro investasi dunia justru bersiap menghadapi badai besar.
Warren Buffett, salah satu investor paling sukses dalam sejarah, dan Michael Burry, pria yang terkenal karena berhasil memprediksi krisis properti global pada 2008, sama sekali tidak terkesan dengan kondisi pasar saat ini. Keduanya kompak meyakini pasar saham global sedang tidak baik-baik saja.
“Kita belum pernah melihat orang-orang dalam suasana hati yang lebih spekulatif (berjudi) seperti sekarang ini,” ujar Buffett menurut laporan CNBC internasional, Rabu (27/5/2026).
Senada dengan Buffett, Burry melalui unggahan terbarunya di platform Substack berkomentar. “Sama sekali tidak ada hentinya membahas AI. Tidak ada orang yang membicarakan hal lain sepanjang hari,” katanya.
Kedua miliarder ini tidak sekadar menggertak; mereka benar-benar mempertaruhkan uang mereka. Berkshire Hathaway, perusahaan investasi yang dipimpin Buffett, memilih menahan dana tunai (kas) dalam jumlah fantastis yang kini melonjak hingga US$ 397 miliar (sekitar Rp 7.086 triliun).
Sementara itu Michael Burry melalui dana kelolaannya, Scion Asset Management, resmi melakukan short (soal harga saham akan anjlok) terhadap tren AI senilai US$ 1 miliar (sekitar Rp 17 triliun) lewat pembelian opsi put pada saham Nvidia dan Palantir.
Antara Euforia Semu dan Memori Pahit Sektor Dot-Com
Bagi Warren Buffett, menimbun uang tunai saat pasar sedang mengalami reli kenaikan adalah hal biasa. Berbeda dengan manajer investasi kebanyakan, pria berjuluk Oracle of Omaha ini lebih memilih diam dan tidak melmelakukan pembelian apa pun jika valuasi pasar sudah terlalu mahal.
Buffett mengungkapkan bahwa dari 60 tahun kariernya di dunia bisnis, hanya ada lima tahun yang benar-benar menawarkan peluang emas untuk membeli saham dengan harga murah.
Di sisi lain, Michael Burry melihat fenomena lonjakan saham AI saat ini sangat mirip dengan gelembung dot-com yang pecah pada periode 1999–2000 silam.
“Saham-saham naik atau turun bukan lagi karena data lapangan kerja atau sentimen konsumen. Mereka bergerak naik hanya karena sebelumnya mereka sudah naik,” tulis Burry.
Dokumen pelaporan SEC menunjukkan Scion Asset Management membeli opsi put senilai US$ 187,6 juta untuk Nvidia dan US$ 912 juta untuk Palantir. Kedua perusahaan tersebut merupakan pemain utama yang paling diuntungkan dari gelombang AI, membuat valuasi mereka meroket tajam.
Sebagai gambaran, rasio harga terhadap pendapatan (price-to-earnings ratio atau P/E ratio) Palantir saat ini telah menembus angka di atas 150 kali, yakni angka yang dinilai sangat tinggi oleh para analis fundamental.
Bagi para investor ritel, langkah kedua tokoh ini menjadi peringatan keras yakni kehancuran pasar mungkin tidak bisa dihindari, dan sektor saham AI berpotensi menjadi korban yang paling parah terhantam.
Kunci Sukses Investor: Kesabaran dan Kas yang Cukup
Sikap sabar sering kali menjadi benteng pertahanan terbaik investor dalam menghadapi kejatuhan pasar, sekaligus menjadi senjata mematikan saat waktu yang tepat untuk membeli tiba.
Buffett terkenal dengan prinsipnya: “Takutlah saat orang lain serakah, dan serakah lah saat orang lain takut.”
Pernyataan bagian kedua adalah kuncinya. Buffett memiliki selera makan yang sangat besar terhadap saham-saham berkualitas justru ketika gelembung pasar telah pecah. Sebagai contoh, di puncak krisis finansial 2008, Berkshire Hathaway menyuntikkan 5 miliar dolar AS ke Goldman Sachs dengan dividen tahunan 10%. Ketika Goldman menebus kembali saham tersebut pada 2011, Berkshire mengantongi keuntungan bersih sekitar 3,7 miliar dolar AS.
Pelajaran pentingnya: investor saat ini mungkin perlu menahan diri untuk tidak mengejar saham AI yang sudah terlampau mahal, dan mulai mengumpulkan uang tunai sebagai persiapan menghadapi potensi koreksi pasar yang masif.
Meski demikian, hal ini bukan berarti perusahaan AI sama sekali tidak bernilai. Sejarah mencatat banyak perusahaan internet yang sempat hancur saat gelembung dot-com pecah berhasil bangkit, mendominasi pasar digital, dan bernilai triliunan dolar hari ini. Amazon kini bernilai 2,9 triliun dolar AS, sedangkan Nvidia yang melantai di bursa (IPO) pada 1999, kini menjadi perusahaan publik paling berharga di dunia dengan valuasi di atas US$ 5 triliun.
Pada akhirnya, ini adalah masalah pilihan dan momentum. Perusahaan mana yang memiliki nilai fundamental yang kokoh? Dan kapan waktu terbaik untuk membelinya?
Meniru langkah Buffett untuk tetap berinvestasi di dalam “lingkaran kompetensi” (circle of competence) dapat menghindarkan investor dari jebakan tren sesaat (hype) AI. Ini menjadi sebuah badai besar yang berpotensi menyapu bersih para pemegang saham yang tidak sabaran.
Untuk memahami kekhawatiran Warren Buffett dan Michael Burry, investor perlu menengok kembali sejarah kelam pasar saham modern. Pada akhir 1990-an, fenomena Dot-com Bubble (Gelembung Dot-com) terjadi ketika investor secara spekulatif menggelontorkan dana masif ke perusahaan-perusahaan berbasis internet baru yang belum menghasilkan keuntungan nyata, hanya karena mereka memiliki domain “.com”.
Sektor teknologi meroket tanpa fundamental yang jelas hingga akhirnya gelembung tersebut pecah pada tahun 2000, menghapus kekayaan triliunan dolar dan membuat indeks Nasdaq jatuh hingga puluhan persen.
Sementara itu, pada 2007-2008 giliran krisis finansial global yang dipicu oleh ambruknya pasar perumahan Amerika Serikat akibat kredit macet (subprime mortgage). Michael Burry menjadi salah satu dari sedikit investor yang mendeteksi cacat sistemik ini lebih awal. Ia mengambil posisi short melawan pasar properti dan berhasil meraup keuntungan luar biasa ketika sistem keuangan AS runtuh.
Dengan latar belakang sejarah tersebut, langkah defensif Buffett yang menumpuk uang tunai saat ini serta strategi short agresif dari Burry menunjukkan indikasi kuat pasar saham saat ini, khususnya sektor AI, telah memasuki fase penilaian berlebih (overvaluation) yang serupa dengan pola krisis masa lalu.