JAKARTA, Detiktoday.com – Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup turun -3,38% ke level 7.129 pada Jumat (24/4/2026), sehingga membuat IHSG telah turun -6,6% WoW. Penurunan IHSG kemarin, kata Stockbit Sekuritas, utamanya tertekan oleh penurunan harga saham BBCA (-5,48%), DSSA (-10,22%), BBRI (-2,5%), BREN (-6,29%), dan BMRI (-2,81%).
“Dalam 2 hari terakhir, IHSG mencatatkan net foreign outflow sebesar Rp 979 miliar pada Kamis (23/4) dan Rp 2 triliun pada Jumat (24/4),” sebut ulasan Stockbit Sekuritas dikutip Sabtu (25/4/2026).
Menurut Stockbit Sekuritas, pelemahan IHSG termasuk saham BBCA — terutama dalam 2 hari terakhir — terjadi seiring sentimen negatif dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang sempat mencetak rekor all–time low di 17.315 per dolar AS pada perdagangan intraday Kamis (23/4) sebelum menguat +0,52% pada Jumat ke level 17.205.
Menyusul rekor pelemahan tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan bahwa Bank Indonesia berkomitmen meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sejak awal tahun, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah melemah -3,1% YTD, sejalan dengan pelemahan nilai tukar negara berkembang lainnya seperti baht Thailand (-2,9% YTD), peso Filipina (-3,2% YTD), won Korea Selatan (-3% YTD), dan rupee India (-4,9% YTD).
Nilai tukar rupiah sendiri kembali tertekan seiring kembali meningkatnya harga minyak global menembus level psikologis US$ 100/barrel akibat berlanjutnya gangguan pasokan via Selat Hormuz.
“Pada sore kemarin, harga minyak Brent turun tipis -0,8% ke US$ 104,3/barrel. Sebelumnya, harga minyak Brent sempat turun hingga US$ 90,4/barrel pada penutupan bursa Jumat (17/4) pekan lalu seiring ekspektasi berlanjutnya negosiasi antara AS–Iran, sebelum kemudian kembali naik akibat terhambatnya negosiasi antara kedua negara tersebut,” jelas Stockbit Sekuritas.
Menanggapi prospek sovereign credit rating dan defisit fiskal Indonesia ke depan, Direktur Fitch Ratings, George Xu, mengatakan pada Kamis (23/4) bahwa Indonesia memiliki ruang untuk melanggar batas defisit fiskal legalnya tanpa memicu penurunan rating, selama hal tersebut ditujukan sebagai respons sementara terhadap gangguan ekonomi akibat perang di Timur Tengah.
Namun, Xu menambahkan, jika pemerintah terus–menerus menjalankan defisit APBN yang lebih tinggi dalam jangka panjang, hal tersebut dapat menyebabkan memburuknya fundamental kredit dan memicu penurunan rating.
Sebelumnya, Fitch pada Maret 2026 menurunkan outlook sovereign credit Indonesia dari ‘stable’ menjadi ‘negative’, dengan alasan meningkatnya ketidakpastian dan melemahnya kredibilitas pembuatan kebijakan. Reuters, dikutip Stockbit, mencatat bahwa downgrade outlook dari Fitch tersebut tidak memperhitungkan dampak perang Iran. Xu menambahkan bahwa pihaknya akan memantau cara Indonesia dalam menghindari batas defisit APBN, serta memperingatkan bahwa wacana perluasan mandat Bank Indonesia dapat memperumit mandat kebijakan dan meningkatkan risiko kesalahan kebijakan.
Seperti yang terlihat pada tabel di atas, terang Stockbit Sekuritas, foreign outflow terkonsentrasi pada saham–saham big banks khususnya saham BBCA, BBRI, BMRI, menandai memburuknya sentimen investor asing dari pelemahan nilai tukar rupiah.
Stockbit menilai bahwa meski harga minyak dunia tidak setinggi level pada puncak ketidakpastian perang (pertengahan Maret 2026) di level US$ 120/barrel, tekanan pada fiskal berpotensi semakin membesar jika harga minyak tetap bertahan di level yang relatif tinggi, mengingat keputusan pemerintah yang hanya menaikkan harga BBM secara selektif.
“Oleh karena itu, investor perlu memantau respons pemerintah dalam menghadapi skenario harga minyak yang bertahan di level tinggi lebih lama (higher–for–longer), termasuk realokasi anggaran dan/atau penyesuaian program/belanja,” pungkas Stockbit Sekuritas.