Harga Emas Merangkak Naik di Tengah Isu Usulan Damai AS Iran

Harga Emas Merangkak Naik di Tengah Isu Usulan Damai AS Iran

Share
Share

BENGALURU, Detiktoday.com – Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan Senin (27/4/2026). Kenaikan ini dipicu oleh melemahnya nilai tukar dolar AS menyusul munculnya laporan mengenai proposal perdamaian baru dari Iran untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat.

Berdasarkan data pasar pukul 04.07 GMT, harga emas di pasar spot (Spot Gold) naik 0,4% menjadi US$ 4.726,62 per ons, seperti dikutip Reuters, Senin. Kenaikan ini menjadi napas baru bagi sang logam mulia setelah pekan lalu sempat terperosok 2,5% dan memutus tren penguatan empat pekan berturut-turut.

Sinyal Damai dari Selat Hormuz

Penguatan harga emas kali ini sangat dipengaruhi oleh sentimen de-eskalasi konflik di Timur Tengah. Laporan menyebutkan Iran, melalui mediator Pakistan, telah memberikan usulan baru kepada AS terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan pengakhiran perang yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir.

“Fokus pasar saat ini adalah melihat apakah ada kemajuan nyata dalam pembicaraan AS-Iran dalam beberapa hari mendatang. Itu akan menjadi penggerak terbesar bagi emas,” ujar analis pasar keuangan senior Capital.com Kyle Rodda, Senin.

Presiden AS Donald Trump menyatakan pada hari Minggu bahwa Iran dapat menghubunginya melalui telepon jika ingin bernegosiasi. Meski demikian, Trump tetap menekankan syarat mutlak bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Dilema Inflasi dan Suku Bunga

Di sisi lain, harga minyak mentah justru merangkak naik akibat mandeknya pembicaraan damai sebelumnya yang sempat mengganggu ekspor energi Timur Tengah. Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran inflasi karena melonjaknya biaya transportasi dan produksi.

Kondisi ini menempatkan emas dalam posisi dilematis. Sebagai aset safe haven, emas biasanya menjadi pelindung nilai terhadap inflasi.

Namun, inflasi yang tinggi sering kali memicu Bank Sentral AS (The Federal Reserve/ The Fed) untuk menaikkan suku bunga. Suku bunga yang tinggi umumnya membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik.

Investor kini bersiap menantikan keputusan suku bunga The Fed pada Rabu mendatang. Keputusan tersebut akan menentukan apakah emas akan mendapatkan dukungan tambahan atau justru menghadapi hambatan baru jika The Fed memilih untuk mempertahankan kebijakan ketat guna meredam krisis energi.

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah pada awal 2026 telah menjadi guncangan terbesar bagi stabilitas ekonomi dunia sejak pandemi global. Perang ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang memuncak, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital di dunia yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak global.

Penutupan jalur tersebut menyebabkan lonjakan harga energi yang drastis, memicu inflasi di berbagai negara maju dan berkembang. Emas, yang secara historis dianggap sebagai aset perlindungan di masa ketidakpastian (safe haven), mengalami fluktuasi tajam seiring dengan berubahnya eskalasi di medan tempur.

Upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan menjadi secercah harapan bagi pasar keuangan global.

Investor berharap de-eskalasi ini dapat memulihkan rantai pasok energi dan menstabilkan inflasi, yang pada akhirnya akan memberikan arah yang lebih jelas bagi kebijakan moneter global dan pergerakan harga komoditas dalam jangka panjang.

Share