NEW YORK, Detiktoday.com – Di tengah fluktuasi pasar kripto yang dinamis, salah satu raksasa riset dan pialang Wall Street Bernstein tetap teguh pada pendiriannya. Bernstein memperkirakan Bitcoin (BTC) menyentuh angka US$ 200.000 (sekitar Rp 3,4 miliar) pada 2027.
Meski Bitcoin sempat merosot 38% dari puncaknya di angka US$ 126.000, analis utama aset digital Bernstein Gautam Chhugani justru menyebut kondisi pasar saat ini sebagai kasus bearish (tren menurun) terlemah dalam sejarah.
Menurutnya, penurunan harga kali ini tidak disertai dengan pemicu kehancuran sistemik seperti kegagalan bursa atau tumpukan utang tersembunyi yang biasanya menyertai crash kripto.
Optimisme Bernstein tidak didasarkan pada pola grafik semata, melainkan logika ekonomi dasar yakni kelangkaan. Sejak peristiwa halving pada April 2024, produksi harian Bitcoin menyusut drastis.
“Hanya 450 Bitcoin yang ditambang setiap hari, namun perusahaan besar dan ETF (Exchange Traded Funds) membeli hingga 20 kali lipat dari jumlah tersebut,” ungkap tim analis Bernstein seperti dikutip laman Investing, Selasa (28/4/2026). Dengan pasokan tahunan yang hanya berkisar 164.000 BTC, lonjakan permintaan dari institusi diperkirakan akan menciptakan “ledakan” harga.
Strategi Agresif Sang “Paus” Kripto
Faktor pendorong utama prediksi ini adalah aktivitas masif dari Strategy, perusahaan publik pemegang Bitcoin terbesar di dunia. Perusahaan ini telah berkomitmen mengumpulkan dana sebesar US$ 84 miliar untuk terus memborong Bitcoin melalui rencana “42/42”.
Selain itu, kehadiran ETF Bitcoin spot yang menarik aset lebih dari US$ 165 miliar hanya dalam 21 bulan menunjukkan bahwa uang institusional kini jauh lebih stabil dibandingkan pembeli ritel di masa lalu.
Meski demikian, jalan menuju US$ 200.000 tidaklah mulus. Data terbaru dari JPMorgan menunjukkan adanya perlambatan arus masuk modal digital pada kuartal pertama tahun ini. Angka investasi hanya menyentuh US$ 11 miliar, atau sepertiga dari kecepatan pada 2025.
Faktor makroekonomi global juga membayangi. Konflik Iran yang belum usai, ketidakpastian gencatan senjata, hingga kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/ The Fed) menjadi penghambat utama. Adapun Bernstein telah menggeser target US$ 200.000 yang awalnya dipatok pada akhir 2025 menjadi 2027 akibat hambatan makro tersebut.
Untuk mencapai target Rp 3,1 miliar, Bitcoin setidaknya harus melonjak sekitar 156% dalam 20 bulan ke depan. Sebuah target ambisius yang membutuhkan kembalinya gairah pasar institusional secara penuh.
Sejak diluncurkan pada 2009 oleh sosok anonim Satoshi Nakamoto, Bitcoin telah bertransformasi dari sekadar eksperimen teknologi menjadi aset keuangan yang diperhitungkan secara global. Perjalanan ini ditandai dengan volatilitas ekstrem, di mana harga dapat melonjak ribuan persen sebelum jatuh secara dramatis dalam waktu singkat.
Namun, lanskap Bitcoin berubah secara fundamental dalam beberapa tahun terakhir dengan masuknya pemain institusional. Persetujuan ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat menjadi titik balik penting yang memungkinkan dana pensiun dan manajer kekayaan besar masuk ke pasar kripto secara legal dan terstruktur.
Selain itu, konsep “Bitcoin sebagai emas digital” mulai diadopsi oleh bendahara korporasi (seperti Strategy) sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan devaluasi mata uang fiat.
Dengan adanya mekanisme halving yang terjadi setiap empat tahun sekali untuk membatasi pasokan, Bitcoin secara desain bersifat deflasi, yang menjadi argumen utama bagi para analis Wall Street dalam memprediksi kenaikan harga jangka panjang di tengah ketidakpastian ekonomi global.