Jangan Kaget kalau Harga Emas Jadi Begini

Harga Emas Bangkit Meski Terganjal Kekhawatiran Inflasi Global

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia berhasil berbalik arah (rebound) pada perdagangan Kamis (30/4/2026), setelah sempat terperosok ke level terendah dalam satu bulan terakhir. Meski menunjukkan pemulihan, penguatan emas masih dibayangi oleh tingginya harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran inflasi berkelanjutan.

Berdasarkan data pasar pada pukul 02:29 GMT, harga emas di pasar spot naik 0,7% ke level US$ 4.573,09 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga menguat 0,5% menjadi US$ 4.585,10 per ons.

Analis pasar utama dari KCM Trade Tim Waterer menilai, penguatan tipis ini didorong oleh para pelaku pasar yang melihat harga emas saat ini sudah cukup murah untuk dibeli kembali.

“Emas menawarkan proposisi nilai bagi para pedagang di level saat ini. Jadi, aksi beli saat harga turun (buy on dip) memainkan peran penting dalam upaya pemulihan emas hari ini,” ujar Waterer sebagaimana dikutip Reuters, Kamis.

Namun, ia memperingatkan bahwa potensi kenaikan jangka pendek masih tertahan. “Harga minyak yang kuat membawa risiko inflasi baru, yang pada gilirannya menekan prospek kenaikan emas lebih lanjut,” tambahnya.

Tekanan dari Sektor Energi dan Kebijakan Fed

Harga minyak mentah jenis Brent saat ini tertahan di atas US$ 120 per barel. Hal ini dipicu oleh kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan minyak jangka panjang dari Timur Tengah.

Kondisi ini menempatkan Bank Sentral AS (The Federal Reserve/ The Fed) dalam posisi sulit. Pada pertemuan Rabu (29/4/2026), The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tetap, namun muncul perpecahan internal yang cukup tajam.

Sebanyak tiga pejabat menyatakan keberatan dan tidak lagi mendukung sinyal penurunan suku bunga karena risiko inflasi yang meningkat.

Pasar kini bereaksi dengan menghapus ekspektasi penurunan suku bunga The Fed tahun ini. Bahkan, para pelaku pasar kini melihat adanya peluang sebesar 30% untuk kenaikan suku bunga pada Maret 2027 mendatang.

Ketegangan AS-Iran Berlanjut

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah berdiskusi dengan perusahaan-perusahaan minyak untuk memitigasi dampak dari rencana blokade pelabuhan Iran yang kemungkinan akan berlangsung selama berbulan-bulan. Trump mendesak pemerintah Iran untuk segera menandatangani kesepakatan baru demi stabilitas global.

Selain emas, logam mulia lainnya juga mencatatkan penguatan. Perak di pasar spot naik 1,6% menjadi US$ 72,63 per ons, platinum menguat 1,8% ke US$ 1.913,86, dan paladium naik tipis 0,4% di level US$ 1.465,14 per ons.

Emas secara tradisional dianggap sebagai aset pelindung nilai (safe haven) utama di saat inflasi tinggi atau terjadi ketidakpastian geopolitik. Namun, nilai emas memiliki hubungan yang kompleks dengan suku bunga. Karena emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga (non-yielding asset), kenaikan suku bunga biasanya akan membuat emas kurang menarik dibandingkan aset lain seperti obligasi atau deposito.

Situasi pada 2026 ini menjadi unik karena emas menghadapi dua kekuatan yang saling bertolak belakang.

Di satu sisi, ketegangan militer dan blokade energi di Timur Tengah mendorong permintaan emas sebagai perlindungan risiko. Di sisi lain, ancaman inflasi yang dipicu oleh harga minyak memaksa Bank Sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama, yang secara historis menjadi penghambat utama bagi reli harga emas.

Share