JAKARTA, Detiktoday.com — Industri kecantikan global tengah memasuki fase baru yang ditandai oleh percepatan inovasi berbasis sains, perubahan perilaku konsumen, serta meningkatnya perhatian terhadap transparansi dan keberlanjutan. Perubahan ini diharapkan ikut mendorong industri kecantikan Indonesia berbasis biotech dan biodiversity (keragaman hayati) negeri kita.
“Bagaimana kita melihat beauty tren ke depan dengan potensi biodiversity Indonesia yang luar biasa, sehingga kita menatap masa depan dengan optimis dan akhirnya membuka rezeki kita di tengah kondisi global yang uncertainty,” kata Direktur Utama Cedefindo Bryan David Tilaar di sela forum tahunan Future Beauty Talk (FBT) 4.0 di Jakarta.
Bryan memaparkan, perubahan lanskap industri tidak terlepas dari pergeseran perilaku konsumen, khususnya generasi Gen Z yang semakin kritis dan berbasis nilai. “Banyak banget pelaku industri kecantikan yang masih muda ingin menggunakan bahan baku lokal. Selain itu buat mereka, kecantikan kini tidak lagi semata soal tampilan, tetapi juga mencakup aspek kesehatan, keamanan bahan, keberlanjutan, serta identitas produk,” kata Bryan.
Sejalan dengan itu, tren terus berevolusi dari natural beauty menuju ethical beauty yang menekankan tanggung jawab terhadap lingkungan. “Dalam konteks ini, Indonesia memiliki posisi strategis berkat kekayaan biodiversitasnya, yang membuka peluang besar bagi pengembangan bahan baku kosmetik natural yang berdaya saing global,” ungkap Bryan.
Bryan menambahkan, selama ini, Martha Tilaar Group melalui Martha Tilaar Innovation Centre (MTIC) secara konsisten melakukan riset berbasis biodiversitas melalui aktivitas bioprospeksi berkelanjutan. Upaya ini menghasilkan berbagai inovasi bahan baku natural yang terstandardisasi dalam koleksi ekstrak Berto Biotech Industry, yang relevan dengan kebutuhan industri dan telah melalui pembuktian ilmiah untuk memastikan keamanan serta manfaatnya.
“Salah satu yang sudah diteliti dan digunakan untuk kosmetik adalah daun kemangi dan kulit manggis,” ungkap Bryan.
Pengujian tersebut didukung oleh laboratorium CosEv Pro yang terakreditasi, dengan metode tervalidasi yang mengacu pada Good Clinical Practice (GCP), sehingga setiap klaim memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Di tingkat global, perkembangan juga ditandai dengan pendekatan yang semakin holistik, seperti longevity science, neurocosmetics, serta meningkatnya tuntutan terhadap praktik keberlanjutan, termasuk penggunaan bahan upcycled dan transparansi rantai pasok. Pendekatan skinification pada perawatan rambut serta inovasi tekstur ringan dengan invisible finish menunjukkan bahwa pengalaman penggunaan kini menjadi sama pentingnya dengan hasil akhir.
“Pemanfaatan bioteknologi, seperti bio-fermentasi, exosome, dan bahan aktif biomimetik, turut memperkuat kemampuan dalam menghadirkan produk yang lebih efektif, aman, dan ramah lingkungan. Meski peluang terbuka luas, tantangan tetap ada, mulai dari kebutuhan investasi riset, dinamika regulasi, hingga kesiapan pelaku industri dalam mengadopsi teknologi baru. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Bryan.
Dalam ekosistem tersebut, kata Bryan, PT Cedefindo hadir sebagai salah satu contract manufacturer terkemuka di Indonesia dengan spesialisasi pada produk makeup, personal care, parfum, aerosol, hingga herbal. Didukung tim ahli dan fasilitas berstandar tinggi, PT Cedefindo memberikan pendampingan menyeluruh mulai dari tren hingga pengembangan formula. Seluruh produk yang dihasilkan telah melalui uji efikasi dan keamanan untuk memastikan kualitas yang terjaga.
President Director PT Cedefindo sekaligus CEO Martha Tilaar Group Dr Kilala Tilaar menyampaikan, “Melalui Future Beauty Talk 4.0, kami ingin menghadirkan perspektif global yang relevan sekaligus mendorong pelaku industri kecantikan Indonesia untuk terus berinovasi dan adaptif terhadap perubahan. Ke depan, industri ini tidak hanya berbicara tentang produk, tetapi juga tentang sains, keberlanjutan, dan bagaimana memahami kebutuhan konsumen secara lebih holistik.”
Tumbuh Pesat
Percepatan inovasi ini menurut Ketua PERKOSMI (Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia) Sancoyo Antarikso, sangat dibutuhkan oleh industri kosmetik kita yang belakangan ini tumbuh pesat. “Data dari BPOM, saat ini ada 348.36 izin edar produk kosmetik yang masih berlaku dan ada 1.750 SKU (Stock Keeping Unit) atau varian produk di BPOM dan ini akan terus bertambah dan kini sudah ada 28 ribu lagi izin edar yang baru. Nilai industri kosmetik Indonesia diperkirakan mencapai US$10 miliar per tahun dan akan terus tumbuh sebesar 5,5%,” papar Sancoyo.
Sedangkan jumlah pelaku Industri kosmetik saat ini mencapai 1.684 pelaku, naik dari 1.200 pada 2024 lalu. “Ini menunjukkan peluang industri kosmetik Indonesia semakin besar yang didukung jumlah penduduk kita yang besar, namun tentu kompetisi semakin ketat sehingga beauty talk ini akan memberikan pengetahuan bagi seluruh pelaku industri kosmetik dan memberikan kontribusi ekonomi untuk Indonesia,” ujar Sancoyo.
Pada penyelenggaraan Future Beauty Talk tahun ini, Martha Tilaar Group melalui PT Cedefindo menghadirkan inisiatif baru berupa pemberian apresiasi kepada brand dan distributor yang berkomitmen mengembangkan produk dengan memanfaatkan bahan baku lokal Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan kekayaan alam sekaligus memperkuat daya saing nasional