JAKARTA, Detiktoday.com – Harga batu bara membara pada Senin (4/5/2026). Kenaikan itu didorong lonjakan permintaan dari India yang meningkatkan konsumsi di tengah gangguan pasokan energi akibat konflik Timur Tengah dan gelombang panas ekstrem.
Harga batu bara Newcastle untuk Mei 2026 naik US$ 1,65 ke level US$ 135,55 per ton. Sedangkan Juni 2026 terkerek US$ 1,6 menjadi US$ 139,2 per ton. Sementara itu, Juli 2026 melonjak US$ 1,4 menjadi US$ 139,9 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Mei 2026 meningkat US$ 1,75 menjadi US$ 109,2 per ton. Sedangkan, Juni 2026 melesat US$ 1,75 menjadi US$ 113,75 per ton. Sedangkan pada Juli 2026 terangkat US$ 1,6 menjadi US$ 116,15 per ton.
Dikutip dari CNBC internasional, India meningkatkan penggunaan batu bara secara signifikan di tengah gangguan pasokan energi akibat konflik Iran serta gelombang panas ekstrem yang mendorong lonjakan permintaan listrik.
Sebagai negara penghasil emisi karbon dioksida terbesar ketiga di dunia setelah China dan Amerika Serikat, lebih dari 70% kebutuhan listrik India masih bergantung pada pembangkit berbasis batu bara. Para analis memperkirakan porsi ini akan semakin meningkat sepanjang tahun 2026.
Meski pemerintah India sebelumnya menyatakan lebih dari 52% kapasitas pembangkit listrik terpasang berasal dari energi nonfosil, seperti tenaga surya, air, dan angin, pembangkit listrik tenaga batu bara yang mencakup sekitar 43% kapasitas tetap menjadi sumber energi utama.
Data dari S&P Global Energy menunjukkan, produksi listrik berbasis batu bara di India pada April mencapai rata-rata 164,9 gigawatt, naik dari 160,7 gigawatt pada periode yang sama tahun lalu. Secara bulanan, produksi juga meningkat 5,6 gigawatt atau sekitar 3,5%.
Kenaikan ini dipicu mahalnya harga gas alam cair (LNG), yang membuat pembangkit berbasis gas menjadi kurang ekonomis. Sekitar 60% pasokan LNG India diimpor melalui Selat Hormuz, yang kini terganggu akibat konflik di Timur Tengah.
Suhu Ekstreem