JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia kembali menguat hingga menembus level US$ 4.700 per troy once pada Rabu, 7 Mei 2026.
Dipantau dari laman Kitco, Rabu (7/5/2026) harga emas terpantau menguat 0,29% ke level US$ 7.703,80 per troy ounce saat berita ini ditulis.
Analis mengungkapkan, harga emas menguat setelah tercapainya kemajuan dalam proses kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di Iran.
Perkembangan tersebut dinilai telah mengubah sentimen geopolitik dan menghidupkan kembali emas. Selain itu, para analis juga menilai bahwa emas diuntungkan dari momen pelemahan dolar AS yang diperdagangkan pada level terendah dalam 10 minggu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia akan menghentikan pengawalan militer AS melalui Selat Hormuz
Namun, dengan harga yang masih di bawah titik resistensi kunci, beberapa analis memperingatkan bahwa emas masih bisa kembali terkoreksi.
Analis Pasar Senior di Trade Nation, David Morrison mengatakan bahwa ketidakpastian akan berdampak negatif pada emas.
“Tidak diketahui secara jelas apa yang mungkin diputuskan dalam kesepakatan damai tersebut, terutama mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Tetapi investor tampaknya yakin bahwa, setelah sepuluh minggu perang, akhir sudah di depan mata,” kata Morrison, dikutip dari Kitco News.
Sementara itu, Kepala Pengembangan Bisnis di XS.com, Simon-Peter Massabni mengungkapkan bahwa dirinya melihat momentum baru dalam emas sebagai lebih dari sekadar pergerakan teknis dan dapat mencerminkan pergeseran selera risiko global.
Namun, Massabni juga mencatat bahwa kenaikan harga emas bisa terbatas dalam jangka pendek karena Federal Reserve terus menjaga keseimbangan pada kebijakan moneternya.
Terlepas dari volatilitas jangka pendek, Massabni menilai prospek jangka panjang emas tetap bullish.
Pasar tidak bergerak berdasarkan satu peristiwa tunggal, tetapi melalui interaksi kompleks antara politik, ekonomi, dan psikologi investor. Dari sudut pandang ini, saya melihat emas tetap menarik sebagai instrumen lindung nilai utama, dan volatilitas saat ini harus dilihat dalam konteks yang lebih luas yang mencerminkan pergeseran struktural dalam sistem keuangan global, bukan hanya reaksi jangka pendek terhadap berita,” paparnya.