Biang Kerok Rupiah Terperosok

Biang Kerok Rupiah Terperosok

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah menembus level Rp 17.500. Bertahannya harga minyak di level tinggi menjadi biang kerok rupiah terperosok.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,6% ke level Rp 17.510 pada perdagangan intraday Selasa (12/5/2026). Ini menandai all-time low bagi rupiah, berdasarkan data Bloomberg.

“Pelemahan rupiah terjadi seiring bertahannya harga minyak di atas level US$ 100/barel akibat gagalnya AS dan Iran dalam mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang, yang menyebabkan gangguan pasokan melalui Selat Hormuz masih berlangsung,” tulis Stockbit Sekuritas dalam catatannya.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran berada dalam tekanan, setelah respons Iran terhadap proposal negosiasi AS untuk mengakhiri perang menunjukkan bahwa kedua pihak masih memiliki perbedaan besar dalam sejumlah isu.

Sementara itu, Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi juga mengungkapkan bahwa rupiah kembali melemah imbas perundingan perdamaian yang buntu antara Amerika Serikat dan Iran.

“Investor tetap fokus pada Selat Hormuz, yang sebagian besar tetap tertutup sejak awal konflik,” tutur Ibrahim.

Rupiah pun diprediksi kembali melemah imbas perhatian pasar pada rilis data inflasi AS bulan April, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS.

Ahli strategi mata uang di OCBC, Christopher Wong seperti dilansir MarketScreener, mengungkapkan bahwa penolakan Trump terhadap tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS telah membuat pasar tetap waspada dan membantu menstabilkan dolar.

Adapun pelemahan rupiah juga ikut menekan indeks harga saham gabungan (IHSG), menurut BRI Danareksa Sekuritas. Kondisi ini juga meningkatkan kekhawatiran capital outflow dari pasar domestik.

Sentimen global juga memburuk akibat meningkatnya tensi geopolitik AS dan Iran yang membuat harga minyak tetap bertahan tinggi dan memicu sentimen risk off di pasar keuangan.

“Selain itu, pasar turut mencermati pengumuman MSCI terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global yang berpotensi menambah tekanan terhadap aset berdenominasi rupiah dan IHSG,” sebut BRI Danareksa Sekuritas.

Share