JAKARTA, Detiktoday.com – Emas memiliki reputasi sebagai aset safe-haven di antara para investor. Ketika pasar saham berfluktuasi dan inflasi meningkat, investor sering mengalokasikan lebih banyak modal ke logam mulia seperti emas dan perak.
Dikutip dari Yahoo! Finance, Selasa (12/5/2026), prospek harga emas di level US$ 6.000 per troy ounce tampak masih jauh. Tetapi karena peningkatan pembelian oleh bank-bank sentral dan ketegangan geopolitik, JPMorgan memprediksi harga emas akan mencapai US$ 6.300 per ons pada tahun 2026.
Namun, seiring perubahan arah ekonomi imbas ketegangan geopolitik baru-baru ini di Timur Tengah, harga emas telah berfluktuatif. Pada akhir Januari 2026, harga emas mencapai US$ 5.419 per troy ounce. Logam mulia ini kemudian menurun dengan cepat pada 2 Februari 2026 ke level US$ 4.660 per troy ounce.
Ini merupakan penurunan 14% hanya dalam tiga hari.
Pada tahun 2026 dan seterusnya, investor perlu mengantisipasi bahwa harga emas dapat mengalami perubahan harga yang lebih besar dan lebih cepat.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan harga emas di 2026 adalah inflasi. Ketika tingkat inflasi tinggi, nilai dolar AS tidak lagi setara dengan sebelumnya. Akibatnya, investor menanamkan lebih banyak uang ke dalam emas karena pasokannya terbatas. Harga emas cenderung melonjak selama periode inflasi tinggi.
Faktor kedua, adalah ketegangan geopolitik. Peristiwa seperti perang, tarif yang lebih tinggi, atau sengketa perdagangan dapat memicu lonjakan harga emas. Ketika ekonomi global tidak pasti, investor beralih ke emas sebagai bentuk keamanan finansial.
Faktor selanjutnya, adalah tren resesi, fluktuasi pasar saham, dan tingkat pengangguran yang lebih tinggi dapat membuat investor khawatir tentang produk perbankan dan investasi tradisional.
Mereka kerap beralih ke emas sebagai investasi alternatif karena secara historis nilainya tetap stabil.