Konten Kreatif Digital Wajib Berakar pada Literasi Budaya

Konten Kreatif Digital Wajib Berakar pada Literasi Budaya

Share
Share

Medan, Detiktoday.com – Di tengah gempuran tren media sosial yang serba cepat, konten kreatif diharapkan tidak sekadar mengejar viralitas, melainkan harus memiliki bobot edukasi. 

Anggota Komisi X DPR RI, dr. Sofyan Tan, menegaskan bahwa pemahaman literasi budaya yang kuat adalah fondasi utama agar karya digital tetap memiliki jati diri bangsa.  

​Hal tersebut disampaikan Sofyan Tan dalam acara “Semarak Budaya” bertema “Dari Warisan ke Inovasi: Mendorong Pemajuan Budaya Melalui Literasi dan Kreativitas Digital”. 

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dengan Komisi X DPR RI yang digelar di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Medan, Jumat (15/5).  

Baca: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat

​Literasi Bukan Sekadar Membaca

​Dalam pemaparannya, Sofyan Tan menyoroti fenomena teknologi digital yang kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat. Namun, kehadiran teknologi ini harus dibarengi dengan peningkatan literasi agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga kreator yang berkualitas.  

​”Literasi bukan sekadar kebiasaan membaca, melainkan kemampuan untuk memahami, mempelajari, dan mengolah informasi menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar legislator dari Dapil Sumut I tersebut.  

​Sayangnya, ia menilai tingkat literasi di Indonesia masih memprihatinkan. 

“Rata-rata orang Indonesia hanya membaca satu buku dalam setahun, bahkan ada yang tidak pernah sama sekali. Ini adalah tantangan besar di era digitalisasi,” ungkapnya.  

​Rendahnya tingkat literasi berdampak langsung pada kualitas konten kreatif, terutama yang mengangkat tema kebudayaan. Sofyan Tan mencontohkan kekayaan kuliner dan tradisi lokal yang memiliki potensi besar untuk dikemas menjadi konten menarik di media sosial.

​Namun, ia menekankan bahwa seorang kreator wajib memahami sejarah dan nilai budaya dari materi yang diangkat sebelum mulai memproduksi konten.  

​”Jika ingin membuat konten bernilai sejarah, wajib membaca terlebih dahulu. Hal ini memaksa pembuat konten memahami literasi budaya sehingga mampu menyusun alur cerita (storytelling) yang baik dan mudah diterima masyarakat,” jelasnya.  

Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

​Kekhawatiran serupa disampaikan oleh akademisi Universitas Satya Terra Bhinneka, A’ung Ezra Al’Fatah. Menurutnya, arus tren digital yang begitu deras membuat karya budaya lokal seperti lagu anak-anak dan lagu daerah semakin tersisih.  

​”Ada kekhawatiran suatu saat nanti tidak ada lagi yang menciptakan lagu anak atau memutar lagu daerah. Yang muncul justru hanya tren joget dan konten media sosial yang terus berganti tanpa akar yang kuat,” tutur Ezra.  

​Sebagai bagian dari upaya edukasi, kegiatan ini juga diisi dengan kuis kebudayaan berbasis digital untuk menguji wawasan kebangsaan para peserta. Melalui acara ini, generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana pelestarian budaya melalui kreativitas yang berbasis pada literasi.

Share