NEW YORK, Detiktoday.com – Goldman Sachs Group Inc. memroyeksikan bank-sentral di seluruh dunia akan meningkatkan aksi borong emas mereka dalam beberapa bulan ke depan. Langkah masif ini diperkirakan menjadi motor utama yang akan membantu pemulihan harga sang logam mulia hingga akhir tahun nanti.
Dalam nota riset teranyar yang dirilis pada 15 Mei 2026, analis Goldman Sachs Lina Thomas dan Daan Struyven memperkirakan volume pembelian emas oleh sektor publik ini akan meningkat hingga menyentuh rata-rata 60 ton per bulan sepanjang 2026.
Berdasarkan kerangka perhitungan terbaru yang telah direvisi, rata-rata pergerakan pembelian dalam 12 bulan terakhir tercatat berada di angka 50 ton per Maret. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan dengan estimasi formula sebelumnya yang hanya sebesar 29 ton.
“Ada ketertarikan fundamental yang sangat kuat dari bank-bank sentral terhadap emas. Perkembangan geopolitik global baru-baru ini kemungkinan besar akan semakin memperkuat urgensi mereka untuk melakukan diversifikasi aset,” tulis para analis tersebut dengan mengacu pada hasil survei internal mereka seperti dikutip Bloomberg internasional, Senin (18/5/2026).
Tekanan Pasar Obligasi dan Tantangan Jangka Pendek
Performa emas global sebenarnya sempat terseok-seok sejak meletusnya perang di Timur Tengah. Konflik tersebut mengerek biaya energi global yang berujung pada lonjakan tekanan inflasi di berbagai negara. Akibatnya, bank-bank sentral dunia termasuk The Federal Reserve (The Fed) AS menjadi enggan untuk melonggarkan kebijakan moneter mereka.
Di tengah ketidakpastian perang yang belum menemui titik terang, pasar obligasi global pun mengalami aksi jual massal (sell-off). Situasi ini otomatis memberikan tekanan berat pada emas, mengingat status emas sebagai aset aman (safe haven) yang tidak memberikan imbal hasil harian (non-yielding asset) jika dibandingkan dengan obligasi pemerintah.
Kendati demikian, penilaian optimistis Goldman Sachs ini sejalan dengan laporan positif dari Dewan Emas Dunia (World Gold Council). Lembaga tersebut mengestimasi total pembelian emas oleh bank sentral global mencapai 244 ton pada kuartal I-2026, naik dari 208 ton pada tiga bulan sebelumnya.
Target Harga Optimistis di Akhir Tahun
Pada perdagangan Senin, harga emas spot bergerak di kisaran US$ 4.530 per troy ons. Posisi ini terhitung melandai jika dibandingkan dengan rekor tertinggi sejarah yang sempat menyentuh angka tepat di bawah US$ 5.600 per troy ons pada akhir Januari 2026.
Meski saat ini sedang terkoreksi, Goldman Sachs tetap mempertahankan target optimistis mereka (bullish) bahwa harga emas akan kembali mendaki ke level US$ 5.400 per troy ons pada akhir tahun ini. Proyeksi senada sebelumnya juga telah dikeluarkan oleh lembaga keuangan raksasa lainnya seperti UBS Group AG dan ANZ Group Holdings Ltd.
Namun untuk jangka pendek, Goldman Sachs mengimbau pelaku pasar untuk tetap berhati-hati. Emas dinilai berpotensi menjadi sumber dana segar yang paling cepat dicairkan jika investor swasta mendadak membutuhkan likuiditas tinggi.
“Hal ini biasanya terjadi jika pasar saham mengalami kejatuhan di tengah tren suku bunga tinggi dan melemahnya ekspektasi pertumbuhan ekonomi,” pungkas analis Goldman.
Emas telah lama memegang peran vital dalam arsitektur keuangan global sebagai pilar utama dari cadangan devisa (reserve assets) suatu negara. Tidak seperti mata uang kertas (fiat) yang nilainya dapat tergerus oleh inflasi atau kebijakan cetak uang, emas adalah aset fisik yang memiliki nilai intrinsik abadi dan tidak dapat didevaluasi oleh pemerintah mana pun.
Tren peningkatan pembelian emas oleh bank-bank sentral pada 2026 ini dipicu oleh dua faktor utama: pembekuan aset mata uang asing dalam konflik geopolitik dan ancaman inflasi global akibat Perang Iran.
Berkaca pada sanksi pembekuan cadangan dolar AS milik beberapa negara di masa lalu, banyak bank sentral, terutama di negara-negara berkembang, kini memandang ketergantungan berlebih pada dolar AS (dedollarization) sebagai risiko politik yang besar.
Emas menjadi pilihan diversifikasi terbaik karena aset ini bebas dari risiko gagal bayar pihak ketiga (no counterparty risk) dan tidak dapat disita secara digital, menjadikannya benteng pertahanan terakhir bagi kedaulatan ekonomi sebuah negara.