JAKARTA, Detiktoday.com – Prospek harga emas dunia disebut masih sangat bullish. Bahkan, perusahaan investasi asal Austria, Incrementum AG, memprediksi harga emas berpotensi menembus US$ 8.900 per ons troi pada akhir dekade ini.
Prediksi tersebut tertuang dalam laporan tahunan In Gold We Trust 2026 bertajuk Back to the Monetary Future. Dalam laporan edisi ke-20 itu, analis Ronald-Peter Stöferle dan Mark Valek menilai reli besar emas saat ini bukan sekadar spekulasi sesaat, melainkan bagian dari perubahan besar sistem moneter global.
Dikutip dari Kitco News, lonjakan harga emas didorong fragmentasi geopolitik, tren dedolarisasi, volatilitas inflasi, hingga meningkatnya ketidakpercayaan terhadap mata uang fiat.
“Masa depan uang justru kembali ke masa lalu,” tulis laporan tersebut, yang menyebut emas semakin penting sebagai jangkar moneter global di tengah melemahnya sistem fiat modern.
Laporan itu mencatat harga emas sempat mencetak rekor US$ 5.595 per ons troi pada Januari 2026 setelah melonjak 64,4% sepanjang 2025, menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak 1979.
Meski reli emas sudah sangat tajam, Incrementum menilai pasar bullish emas masih jauh dari berakhir.
“Golden Decade yang kami proklamasikan sejak 2020 kini sedang berlangsung penuh,” tulis laporan tersebut. Sejak 2020, harga emas telah melonjak sekitar 165% dalam denominasi dolar AS.
Incrementum sebelumnya menargetkan harga emas mencapai US$ 4.800 per ons pada 2030. Namun target itu ternyata sudah tercapai lebih cepat pada 2026 sehingga perusahaan kini menaikkan proyeksi menjadi US$ 8.900 per ons troi pada akhir dekade.
Menurut laporan itu, emas kini mulai dipandang bukan hanya sebagai komoditas atau aset safe haven, melainkan aset cadangan netral di tengah perubahan besar tatanan ekonomi dan moneter dunia.
Bank Sentral Borong Emas