JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia diprediksi bergerak dalam rentang US$ 4.333 per troy ounce sampai US$ 4.943 per troy ounce untuk sepekan ke depan.
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga emas dunia pada Sabtu lalu ditutup di US$ 4.506 per troy ounce.
“Jika naik, resistance pertama di US$ 4.606 per troy ounce. Jika turun, support pertama di US$ 4.414 per troy ounce,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Ibrahim menjelaskan, untuk sepekan ke depan, jika harga emas turun, support kedua di US$ 4.333 per troy ounce. Kalau naik, resistance kedua di US$ 4.943 per troy ounce.
Faktor yang mempengaruhi pergerakan harga emas dunia, terutama faktor geopolitik. Ibrahim mengatakan, faktor geopolitik terlihat dari masih terus memanasnya konflik di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina.
Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah di Rusia dan ini yang membuat ketegangan. Lalu di Timur Tengah, pembicaraan tentang negosiasi masih terus berlangsung.
Kemudian ada secercah harapan bagi Trump yang mengatakan nota kesepahaman tentang kesepakatan perdamaian telah sebagian besar dinegosiasikan dengan Iran dan akan membuka Selat Hormuz.
Di sisi lain juga, Israel terus melakukan penyerangan terhadap Lebanon Selatan dan Jalur Gaza. Ini pun juga memanaskan situasi dan kondisi di Timur Tengah.
Selanjutnya, dari segi kebijakan Bank Sentral Amerika, salah satu yang paling menarik adalah dari Presiden Federal Reserve yaitu Thomas Barkin yang mengatakan bahwa kebijakan saat ini berada di posisi yang baik untuk menghadapi guncangan yang sedang berlangsung sambil menambahkan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terkendali.
Meski banyak pejabat Bank Sentral Amerika yang menginginkan mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga, tetapi Thomas Barkin menganggap bahwa ada secercah harapan sampai akhir tahun Bank Sentral Amerika akan menurunkan suku bunga apabila inflasi secara jangka panjang terkendali.
Kemudian, menurut Ibrahim, pelemahan mata uang rupiah yang terjadi bukan merupakan kesalahan teknis moneter dari Bank Indonesia, tapi merupakan kesalahan struktural di luar kendali otoritas moneter.
Menurutnya, akar permasalahan dari pelemahan mata uang rupiah adalah defisit neraca transaksi berjalan yang bersifat struktural bukan temporer sehingga membuat rupiah melemah.
Ibrahim mengatakan, kalau rupiah ingin menguat terdapat dua cara yaitu dengan aliran masuk berupa investasi atau utang, tetapi yang terjadi saat selama ini bukan arus modal asing investasi tetapi adalah utang, inilah yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan.
“Jadi akar utama dari neraca defisit neraca transaksi berjalan yang terus mendekati level 3% ini akibat dari naiknya harga minyak dan naiknya indeks dollar,” tambahnya.