Semarang, Detiktoday.com – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel JD Wattimena kritik tajam penampilan para finalis pada malam Grand Final Denok dan Kenang Kota Semarang 2026.
Berlatar belakang sebagai perancang busana senior, Samuel menilai pakaian yang dikenakan para finalis belum mampu merepresentasikan identitas budaya khas Kota Semarang.
Kritik tersebut disampaikan Samuel usai bertindak sebagai juri kehormatan dalam acara yang digelar di Balai Kota Semarang, Minggu (24/5).
Baca: Ganjar Pranowo Ungkap Masyarakat Takut dengan Pajak
Meski mengapresiasi proses penjurian yang dinilai melibatkan figur kompeten dan kritis, ia memberikan catatan tebal pada aspek penampilan para duta wisata tersebut.
Samuel mencontohkan kombinasi kebaya modern dengan legging hitam serta kain yang hanya disampirkan sebatas lutut sebagai paduan yang kurang serasi. Menurutnya, alasan panitia mengenai kepraktisan demi memudahkan koreografi tarian tidak bisa diterima.
”Kalau mau bikin Denok dan Kenang, tampilan pakaian yang dipakai harus representasi Kota Semarang. Kebudayaan ini bukan hanya seni, tolong diingat itu ya, etika, gaya hidup, lifestyle dari orang Semarang gaya apa sih?” ujar Samuel.
Ia menegaskan bahwa pakaian merupakan medium komunikasi budaya yang paling mudah dikenali oleh publik. Oleh karena itu, detail seperti penggunaan kain, sarung, penataan rambut, hingga aksesori para finalis seharusnya menonjolkan ciri khas lokal yang kuat.
Samuel juga menyayangkan tidak adanya satu pun peserta yang menjelaskan filosofi dari pakaian, gaya rambut, maupun perhiasan yang mereka kenakan malam itu. Padahal, aspek budaya yang melekat dalam keseharian dinilai sangat penting untuk diangkat sebagai bagian dari narasi (storytelling) wisata daerah.
”Alasannya untuk memudahkan koreografi tarian. Ah, itu enggak bisa saya terima,” tuturnya menyayangkan hilangnya unsur filosofis demi alasan teknis.
Lebih lanjut, Samuel membandingkan penyelenggaraan Denok Kenang tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, gelaran terdahulu justru jauh lebih kuat dalam menampilkan karakter budaya Semarang.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Ia mengingat bagaimana pembinaan pada masa lalu sangat memperhatikan detail tata busana:
– Penggunaan kain khas Semarang yang autentik.
– Penataan konde dan gaya rambut yang sesuai pakem.
– Pemilihan perhiasan yang merepresentasikan identitas lokal.
Di akhir pernyataannya, Samuel berharap ajang Denok dan Kenang tidak hanya mencetak anak muda yang piawai berbicara mengenai pariwisata, bangunan bersejarah, atau transportasi semata. Lebih dari itu, mereka harus menjadi cerminan hidup dari budaya, etika, dan identitas masyarakat Semarang.
“Kan kita sedang mencari contoh anak muda mengenai identity Kota Semarang,” pungkas Samuel.