Jakarta, Detiktoday.com – Anggota Komisi lll DPR RI dari Dapil Bali Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Parta, mengungkapkan kegelisahannya terhadap arah pembangunan Bali usai melakukan kunjungan ke Yogyakarta.
Dalam catatan reflektif yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya pada 23 Mei 2026, Parta membandingkan Bali dan Yogyakarta sebagai dua daerah budaya besar di Indonesia, sekaligus mempertanyakan apakah Bali hari ini masih memberi ruang hidup yang cukup bagi masyarakatnya sendiri.
“Apakah Bali hari ini masih memberi ruang bernapas yang cukup bagi masyarakatnya sendiri?” tulis I Nyoman Parta di Instagram miliknya, dikutip Selasa (26/5/2026).
Dalam refleksi panjang tersebut, Parta mengaku sengaja berjalan ke berbagai sudut Kota Yogyakarta selama kunjungannya. Ia mengamati ruang publik, suasana kampung, kehidupan masyarakat, ritme jalanan hingga bagaimana budaya hidup dalam keseharian warga.
Menurutnya, kegelisahan itu muncul bukan karena Yogyakarta lebih hebat dari Bali, melainkan karena keduanya sama-sama memiliki kekuatan budaya yang besar sehingga Bali perlu sesekali bercermin terhadap arah pembangunan yang sedang berlangsung.
“Semakin lama berada di Yogya semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya tentang Bali hari ini. Bukan karena Yogyakarta lebih hebat daripada Bali. Tidak tentunya. Bali tetap memiliki kekuatan budaya yang luar biasa dan dikagumi dunia. Tetapi justru karena sama-sama daerah budaya, saya merasa Bali perlu sesekali bercermin,” tulis Parta.
Parta menilai ada suasana berbeda yang ia rasakan ketika berada di Yogyakarta. Ia melihat kota yang masih memberi ruang hidup lebih manusiawi bagi masyarakatnya, dengan ritme kehidupan yang lebih pelan serta ruang publik yang tetap hidup.
Ia menggambarkan bagaimana masyarakat masih memiliki ruang untuk berjalan, berbincang, berkumpul dan menikmati kehidupan dengan lebih tenang.
“Di Yogyakarta saya melihat sebuah daerah yang masih memberi ruang bernapas bagi manusianya. Ritme hidupnya terasa lebih pelan. Ruang publiknya masih memberi tempat bagi orang untuk berjalan, berbincang, berkumpul, dan hidup lebih tenang,” tulisnya.
Di sisi lain, Parta justru merasa Bali saat ini bergerak terlalu cepat seiring ledakan industri pariwisata, investasi properti, pembangunan vila, hotel hingga kawasan wisata internasional yang terus berkembang.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Bali saat ini juga memunculkan harga sosial yang perlahan mulai dirasakan masyarakat lokal.
“Kita harus jujur mengakui bahwa Bali hari ini sedang menghadapi kelelahan sosial,” tulisnya.
Ia menyoroti berbagai persoalan yang kini semakin nyata di Bali, mulai dari kemacetan, persoalan sampah, penyusutan sawah, krisis air hingga harga tanah yang semakin sulit dijangkau generasi muda Bali.
Bahkan, menurutnya, banyak masyarakat lokal perlahan mulai merasa asing di tanahnya sendiri akibat tekanan industri pariwisata yang terus meluas.
Sebagai wakil rakyat dari Bali, Parta menilai ironi terbesar Pulau Dewata hari ini justru lahir dari keberhasilannya sendiri sebagai destinasi wisata dunia.
Hotel, vila dan investasi tumbuh pesat, tetapi di saat bersamaan ruang hidup masyarakat lokal justru semakin menyempit.
“Pertanyaan dasarnya sederhana: apakah semua pembangunan itu sudah cukup membuat masyarakat Bali hidup lebih nyaman?” tulisnya.
Parta mengingatkan bahwa ukuran kemajuan tidak boleh hanya diukur dari jumlah wisatawan maupun investasi yang masuk, tetapi juga dari kualitas hidup masyarakatnya sendiri.
Menurutnya, jika masyarakat semakin stres, ruang hijau terus hilang dan generasi muda kesulitan memiliki masa depan di tanah kelahirannya, maka ada yang perlu dievaluasi dari arah pembangunan Bali.
Ia juga menyoroti posisi budaya Bali yang jangan sampai hanya dijadikan ornamen industri pariwisata semata.
“Kadang saya merasa kita terlalu sibuk menjual Bali kepada dunia, tetapi mulai kurang merawat Bali sebagai rumah bagi orang Bali sendiri,” tulisnya.
Parta menegaskan dirinya tidak menolak pariwisata karena sektor tersebut telah memberi kehidupan bagi jutaan masyarakat Bali. Namun ia mengingatkan bahwa pembangunan harus tetap berpihak kepada manusia dan keberlanjutan budaya.
“Bali tidak boleh hanya indah untuk wisatawan. Bali juga harus nyaman bagi masyarakatnya sendiri.”
Di akhir refleksinya, Parta menilai Bali saat ini sedang berada di persimpangan sejarah, antara terus bergerak menjadi mesin industri pariwisata global atau mulai menata ulang pembangunan agar tetap memberi ruang hidup yang layak bagi masyarakatnya sendiri.
Menurutnya, pembangunan sejati bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi tentang bagaimana manusia tetap dapat hidup nyaman, bermartabat dan merasa memiliki rumahnya sendiri.