Selain faktor suku bunga, Innes juga menyoroti ketimpangan besar dalam ekonomi global. Selama bertahun-tahun, investasi global dinilai terlalu fokus pada sektor digital seperti kecerdasan buatan (AI), pusat data, dan semikonduktor, sementara sektor ekonomi fisik seperti energi, pertambangan, dan infrastruktur komoditas justru kurang mendapat perhatian.
Menurut dia, krisis Selat Hormuz membuka fakta bahwa rantai pasok energi global sangat rentan terhadap guncangan geopolitik. “Lonjakan harga minyak dan logam bukanlah penyakit utama, melainkan gejala dari minimnya investasi jangka panjang di sektor komoditas,” ujar Innes.
Ia menilai, emas kini bukan sekadar lindung nilai inflasi, tetapi telah berkembang menjadi instrumen perlindungan moneter di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan penuh ketidakpastian geopolitik.
Innes juga menyebut, China menjadi salah satu negara yang paling memahami pentingnya emas dalam sistem keuangan global saat ini. Menurut dia, strategi akumulasi emas Beijing bukan hanya untuk melindungi diri dari inflasi, tetapi juga sebagai perlindungan terhadap risiko geopolitik dan sistem keuangan global berbasis dolar AS.
Karena itu, Innes menilai, koreksi harga emas saat ini lebih menyerupai proses pembersihan pasar dari spekulan jangka pendek dibanding tanda runtuhnya bull market jangka panjang. “Fondasi utama emas masih kuat, mulai dari diversifikasi cadangan devisa, fragmentasi geopolitik, hingga potensi kembalinya kebijakan moneter longgar,” tutur dia.