Tekanan ekonomi akibat perang Ukraina turut memicu lonjakan permintaan emas domestik di Rusia. Data Moscow Exchange menunjukkan volume transaksi emas pada April melonjak lebih dari 350% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 42,6 ton.
Dalam denominasi rubel, nilai transaksi emas bahkan melesat hampir 500% menjadi 534,4 miliar rubel atau sekitar US$ 7,1 miliar.
Analis Finam Nikolai Dudchenko menilai, banyak bank sentral negara berkembang saat ini mulai menjual emas untuk membiayai kebutuhan fiskal, pengeluaran pertahanan, hingga menjaga stabilitas mata uang domestik.
Meski cadangan emas menyusut, nilai total kepemilikan emas Rusia justru meningkat seiring reli harga emas global. Pada Januari lalu, nilai cadangan emas Rusia tercatat naik 23% menjadi US$ 402,7 miliar setelah harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi.
Saat berita ini ditulis, harga emas terlihat menguat tipis sebesar 0,09% ke level US$ 4.573,95 per ons troi. Selama sebulan terakhir, harga Emas telah turun 2,26%, tetapi masih 36,78% lebih tinggi dibandingkan setahun yang lalu.
Harga Emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) sebesar US$ 5608,35 per ons troi pada Januari 2026.
Di sisi lain, ekspor emas Rusia ke China juga terus meningkat. Bloomberg sebelumnya melaporkan ekspor logam mulia Rusia ke China melonjak hampir dua kali lipat sepanjang semester I-2025. Rusia saat ini masih menjadi produsen emas terbesar kedua dunia setelah China dengan produksi tahunan di atas 300 ton.
Permintaan emas ritel domestik di Rusia juga mencetak rekor tertinggi pada 2024. Konsumen Rusia membeli sekitar 75,6 ton emas sepanjang tahun lalu atau setara seperempat produksi emas nasional negara tersebut.