JAKARTA, Detiktoday.com – Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) kembali anjlok 3,68% ke Rp 22.925 pada akhir perdagangan Jumat (29/5/2026). Tapi lagi-lagi, saham UNTR diserok asing.
Sebanyak 28,95 juta saham UNTR diperdagangkan, frekuensi 11.535 kali, dan nilai transaksi Rp 668,35 miliar. Investor asing membukukan net buy di saham anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini Rp 85,23 miliar.
Sepanjang Mei 2026, saham United Tractors mayoritas memerah. Dalam sebulan terakhir, saham ini anjlok 24,03%. Meski demikian, saat harganya jatuh, saham berkode UNTR diserok asing dengan net buy Rp 136,97 miliar di periode yang sama.
Secara valuasi, UNTR kian atraktif. Berdasarkan data aplikasi Stockbit Sekuritas, rasio price to book value (PBV) UNTR jadi cuma 0,89 kali dan price earning ratio (PER) 6,97 kali (TTM).
MNC Sekuritas menyebutkan UNTR terkoreksi 3,68% ke 22.925 namun muncul adanya volume pembelian.
Broker efek tersebut merekomendasikan trading buy saham UNTR untuk Selasa (2/6/2026) pekan depan dengan titik masuk di kisaran 22.575-22.925. Adapun target harganya 24.225 dan 25.250.
“Stoploss di bawah 22.300,” pungkas MNC Sekuritas.
Sebelumnya, sebagaimana dikutip dari ulasan Stockbit Sekuritas, United Tractors mengumumkan kinerja operasional selama 4M26, mencakup volume penjualan Komatsu 1.413 unit (-25% YoY), setara 35% target 2026 yang telah direvisi turun menjadi 4.000 unit (vs. 4M25: 42% realisasi 2025), dengan market share 17% (vs. 2025: 20%) yang melanjutkan tren market share di bawah 20% sejak 1Q26.
Volume overburden 321,3 juta bcm (-5% YoY) seiring penurunan stripping ratio dari klien, setara 36% target 2026 yang telah direvisi turun menjadi 900 juta bcm (vs. 4M25: 31% realisasi 2025).
Volume penjualan batu bara 5,5 juta ton (+12% YoY), didukung kenaikan penjualan batu bara termal dari PT Tuah Turangga Agung menjadi 3,5 juta ton (+29% YoY), setara 47% target 2026 (vs. 4M25: 35% realisasi 2025).
Volume penjualan emas 6 ribu oz (vs. 4M25: 89 ribu oz), di mana perseroan menargetkan tambang emas Martabe kembali beroperasi pada akhir Mei–awal Juni 2026.
Dan volume penjualan nikel 697 ribu wmt (-1% YoY), setara 58% target 2026 yang direvisi turun menjadi 1,2 juta wmt (vs. 4M25: 34% realisasi 2025).