NEW YORK, Detiktoday.com – Bitcoin (BTC) kini menghadapi tekanan jual yang semakin dalam seiring dengan langkah para investor jangka panjang, yang sebelumnya dikenal memiliki keyakinan tinggi, ikut melepas kepemilikan aset kripto mereka. Kondisi ini dipandang para analis sebagai sinyal bahwa fase penurunan harga atau bear market yang panjang mungkin akan segera mencapai titik akhir.
Menurut catatan analis Compass Point, Ed Engel, investor yang telah memegang Bitcoin selama minimal 155 hari (sekitar lima bulan) mulai aktif menjual aset mereka dalam beberapa pekan terakhir.
“Dalam dua hari terakhir, mereka telah menjual sekitar US$ 2,4 miliar Bitcoin. Hal ini memberikan dampak besar pada keseimbangan pasokan dan permintaan,” ungkap Engel seperti dikutip CNBC internasional, Kamis (4/6/2026).
Data menunjukkan, sebanyak 26% dari Bitcoin yang terjual dalam 30 hari terakhir berasal dari investor yang membeli di harga di atas US$ 90.000. Engel menilai, keputusan investor kelas atas ini untuk menyerah (capitulation) adalah fenomena umum dalam fase akhir pasar yang sedang jatuh.
“Kapitulasi investor besar ini memberi kami keyakinan lebih bahwa bear market Bitcoin sudah berada di tahap akhir,” tambahnya.
Divergensi dengan Pasar Saham
Bitcoin saat ini berjuang keras untuk kembali ke level rekor tertingginya di atas US$ 126.000 yang dicapai Oktober lalu. Ketidakpastian akibat perang di Iran menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga. Ironisnya, di saat Bitcoin terpuruk, pasar saham justru mencatatkan rekor baru.
Kondisi ini memicu skeptisisme di kalangan investor mengenai dua narasi utama Bitcoin: klaim bahwa Bitcoin adalah “emas digital” yang seharusnya menguat saat ada ketidakpastian geopolitik, serta anggapan bahwa Bitcoin bergerak selaras dengan saham teknologi.
Sementara itu, Exchange Traded Funds (ETF) Bitcoin mengalami tekanan berat dengan mencatat arus keluar (net outflow) selama 12 hari berturut-turut, yakni rekor terpanjang yang pernah ada. Total aset bersih di ETF Bitcoin pun merosot tajam menjadi $85 miliar dari sebelumnya US$ 107,8 miliar pada 14 Mei 2026.
Analis Citi Alex Saunders menekankan arus dana ETF adalah penggerak utama harga Bitcoin saat ini. “Arus dana baru-baru ini negatif, dan peluang pengesahan RUU struktur pasar AS yang diharapkan bisa menjadi katalis minat investor juga kian menipis,” jelas Saunders.
Ia memprediksi sentimen pasar akan tetap lesu kecuali ada perkembangan positif dari sisi regulasi atau meningkatnya kekhawatiran fiskal global yang memicu kembali minat terhadap aset lindung nilai.
Bitcoin sempat dipandang sebagai aset pelindung nilai (safe haven) layaknya emas, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dunia. Namun, ketegangan militer yang meningkat pasca serangan Februari 2026 dan dampaknya terhadap harga energi telah menciptakan volatilitas tinggi di pasar keuangan global.
Sejak awal 2026, Bitcoin mengalami fluktuasi tajam yang dipicu oleh kebijakan moneter, sentimen regulasi, serta arus masuk dan keluar dana melalui produk investasi ETF.
Fenomena “kapitulasi” yang terjadi saat ini mencerminkan kelelahan psikologis investor yang telah bertahan di tengah gejolak pasar selama berbulan-bulan, sekaligus menandai pergeseran perilaku pasar kripto yang semakin terintegrasi dengan dinamika ekonomi makro global.