JAKARTA, Detiktoday.com – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) anjlok pada Jumat (5/6/2026), tertekan oleh penurunan harga minyak nabati di China serta kekhawatiran pasar terhadap implementasi sistem ekspor baru Indonesia.
Meski demikian, harga CPO masih berhasil membukukan kenaikan mingguan untuk pekan ketiga berturut-turut.
Berdasarkan data BMD pada penutupan Jumat (6/6/2026), kontrak berjangka CPO untuk Juni 2026 jatuh 39 Ringgit Malaysia menjadi 4.492 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Juli 2026 terpangkas 40 Ringgit Malaysia menjadi 4.526 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO Agustus 2026 turun 47 Ringgit Malaysia menjadi 4.554 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO September 2026 melemah 45 Ringgit Malaysia menjadi 4.584 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka CPO Oktober 2026 jatuh 41 Ringgit Malaysia menjadi 4.616 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan Kontrak berjangka CPO November 2026 ambles 39 Ringgit Malaysia menjadi 4.647 Ringgit Malaysia per ton.
Dikutip dari Tradingview, Kepala Riset Komoditas Sunvin Group Anilkumar Bagani mengatakan, pelemahan harga dipicu aksi jual pada kontrak minyak nabati China yang menekan sentimen pasar.
“Pasar bergerak lebih rendah karena aksi jual pada kontrak minyak nabati di China. Tekanan semakin besar akibat kekhawatiran akan meningkatnya penjualan CPO Indonesia menjelang penerapan penuh sistem ekspor baru,” ujarnya.
Pemerintah Indonesia pada Jumat resmi menerbitkan aturan yang menempatkan ekspor sejumlah komoditas strategis, termasuk minyak sawit, di bawah kendali pemerintah pusat. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan penerimaan negara sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Masa transisi kebijakan dimulai pada 1 Juni 2026, sementara implementasi penuh dijadwalkan berlaku mulai awal tahun depan.
Produksi CPO Rendah