JAKARTA, Detiktoday.com – Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali rontok pada sesi I perdagangan Senin (8/6/2026). Di sekitar pukul 09.17 WIB, IHSG minus 3,40% ke level 5.404.
Sebanyak 594 saham memerah, hanya 57 saham yang hijau, dan 71 saham stagnan.
Saham Bank Central Asia (BBCA) atau BCA sejalan dengan pasar. Saham bank besar ini merosot 2,66% ke Rp 4.940 pada sekitar pukul 09.20 WIB.
Tapi ada yang coba melawan arus dengan menyerok saham BBCA.
Berdasarkan data pada aplikasi Stockbit Sekuritas, saat berita ini disusun, saham Bank Central Asia membukukan net buy Rp 131,9 miliar, tertinggi di antara saham-saham net buy lainnya.
Sebelumnya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA memang membukukan net sell investor asing Rp 1,1 triliun pada perdagangan Jumat (5/6/2026) pekan lalu.
Tapi, diam-diam ada yang lahap saham emiten bank swasta terbesar di Indonesia ini.
Mengacu data aplikasi Stockbit Sekuritas, investor domestik mengambil kesempatan menyerok saham BBCA dengan membukukan net buy Rp 1,1 triliun di hari Jumat dengan harga rata-rata Rp 5.169.
Saham emiten bank besar PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA sendiri ditutup anjlok hingga 6,45% ke Rp 5.075 pada akhir perdagangan Jumat (5/6/2026) pekan lalu yang menjadi level terendahnya dalam lima tahun terakhir.
Sebanyak 572,61 juta saham Bank Central Asia diperdagangkan, frekuensi 98.350 kali, dan nilai transaksi Rp 2,96 triliun.
Saham BCA jatuh sejalan dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup longsor 4,20% ke level 5.594.
Dalam periode tahun berjalan, saham Bank Central Asia longsor 37,15%.
CGS International Sekuritas membuat hitung-hitungan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA untuk perdagangan Senin (8/6/2026).
Broker efek tersebut menaksir ada kemungkinan saham BBCA turun lagi dengan support pertama pada 4.975 dan support kedua di 4.875.
Tapi saham Bank Central Asia berpeluang berbalik jika mengenai pivot 5.175 dengan resistance pertama di 5.275 serta resistance kedua 5.475.